myudiman

Relawan Ridwan Kamil, Mau Kemana?

In Tidak terkategori on Juli 22, 2013 at 9:37 pm

Setelah sukses mengantarkan Kang Ridwan Kamil (RK) dan pasangannya Mang Oded M. Danial ke kursi Walikota dan Wakil Walikota Bandung, beberapa waktu terakhir, muncul beragam diskusi di simpul-simpul relawan RK, tentang bagaimana peran para relawan, dan apa yang harus dikerjakan para relawan setelah terpilihnya RK sebagai Walikota.

Peran relawan RK memang tak bisa dipungkiri sangat besar dalam mendorong RK ke kursi Bandung Satu. Tentu, harus juga disebut peran para kader partai pengusung PKS dan Gerindra dan berbagai kelompok pendukung lainnya. Namun peran relawan RK yang berkumpul dalam simpul-simpul di berbagai titik di kota Bandung, relawan kreatif di bidang desain, sosial media, event, dan yang bekerja mengetuk pintu rumah-rumah warga di masa kampanye, memang tak bisa diabaikan.

Peran dan dukungan para relawan sepertinya berakhir ketika RK dan OMD dinyatakan memenangkan pilkada oleh KPUD kota Bandung pada jumat 28 Juni 2013  lalu. Dengan begitu, selesai juga tugas para relawan. This is the end of service. Selesai.

Tapi benarkah begitu? Patut disayangkan jika peran relawan berhenti sampai disini. Hanya “mengantar ke gerbang”. Seperti peran Bu Inggit Garnasih mengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan, dalam novel yang ditulis penulis biografi Ramadhan KH.  Seperti itukah?

Peran relawan memang telah selesai pada satu tahapan. Tahapan itu adalah memenangkan Ridwan Kamil sebagai walikota. Namun, alih-alih telah berakhir, tugas dan peran relawan RK sejatinya baru saja dimulai.

rk2

Peran dan tugas baru itu serupa saja. Ketika saat kampanye para relawan membantu memperkenalkan dan meyakinkan warga kota Bandung, bahwa RK adalah pilihan tepat dan solusi untuk bandung yang semrawut, maka tugasnya sekarang ini adalah membantu meyakinkan warga Bandung saat RK merealisasikan program-rogram dan janji kampanyenya.

Ada banyak hal bisa dilakukan. Ketika Walikota RK merencanakan membangun 1000 shelter sepeda, dan mengampanyekan Bandung kota sepeda, maka para relawan RK harus menjadi yang pertama mengandangkan mobil dan motornya dan menjadikan sepeda sebagai kendaraan untuk beraktifitas ke kampus, ke sekolah, ke pasar, ke rumah pacar, kemanapun tujuannnya.

Saat Kang RK merealisasikan gerakan sejuta biopori sebagai program untuk mengolah sampah sekaligus mencegah banjir, maka para relawan akan menjadi tukang kampanye dan pendemo biopori di lingkungan terdekatnya. Mengajak orang tua, teman, sahabat, pacar, calon mertua dan lingkungan terdekat untuk bersama-sama membuat biopori di halaman rumah, lingkungan sekolah, tempat ibadah, dan lokasi lainnya.

Ketika Pak Wali meluncurkan aplikasi Ngabandungan yang merupakan media pelaporan warga (citizen repoting), maka para relawan harus menjadi yang terdepan sebagai pengguna aplikasi ini. Menyebarkannya, mengedukasi teman, kerabat, dan keluarga untuk sama-sama melaporkan berbagai permasalahan kota yang ditemui.

Ketika mental dan perilaku warga kota Bandung, sudah demikian hancur karena adanya pembiaran terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan rezim walikota lama dalam berlalu lintas, dalam beretika hidup dan tinggal di kota, maka para relawan menjadi pionir yang memberi teladan disiplin berlalu lintas, tidak membuang sampah ke jalan dan ke sungai, dan menjadi teladan dalam pembangunan kota untuk diri dan lingkungannya.

Intinya, para relawan adalah representasi dan penjelmaan walikota Ridwan Kamil dalam memperjuangkan Bandung yang baru. Bandung yang dibangun dengan semangat kekompakan dan kolaborasi warga. Bandung yang dicintai dan dibanggakan, karena kota ini layak mendapatkannya. Semangat dan kekompakan warga inilah yang menjadi modal utama warga dan mengantar Kang Ridwan Kamil mendapat penghargaan kepemimpinan perkotaan dari Universitas Pensylvania AS.

Dengan begitu, karena sebagian tugasnya sudah dikerjakan oleh para relawan dan warga, Walikota RK dapat fokus pada hal-hal yang lebih strategis dan sesuai dengan pengalaman dan kompentensi yang dimilikinya. Perbaikan infrastruktur, perencanaan kota, peningkatan kesejahteraan warga, dan mengupayakan agar indeks kebahagiaan warga kota Bandung meningkat dengan signifikan. Menjadikan warga kota Bandung  masyarakat paling berbahagia sedunia.  Bukankah ini juga yang menjadi cita-cita kita bersama?

Bukan tanpa alasan, relawan RK datang dari kalangan muda, kelas menengah kota dan kreatif. Seperti RK yang juga yang berusia muda, perubahan memang sudah kodratnya harus datang dari kalangan muda. Bung Karno pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”  Ujaran Bung Karno merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan para pemuda sebagai agen perubahan. Tentu saja, pemuda yang dimaksud ialah mereka yang berpikiran positif, dan berprestasi.

Dengan begitu kebanggaan menjadi relawan RK, tidak sebatas saat mengantarkannya  ke kursi walikota, dan setelahnya menyimpan rasa bangga itu untuk diri kita sendiri. Kebanggaan yang harus dimiliki oleh para relawan adalah saat bersama-sama Walikota Ridwan Kamil turut membangun Bandung dengan harapan baru.

Lantas, bagaimana semangat relawan ini harus dikelola agar semangat dan kreatifitasnya menghasilkan karya positif. Perlukah para relawan dihimpun dalam sebuah organisasi, misalnya? Saya termasuk yang percaya, bahwa sebuah kerumunan yang berhimpun dalam sebuah organisasi, akan memiliki kekuatan yang dahsyat dalam menjalankan peran yang diembannya ketimbang yang dibiarkan cair dan tanpa ikatan. Sebuah forum komunikasi yang bertemu dalam kuantitas waktu tertentu mungkin dapat menjadi pilihan. Sisanya adalah bagaimana para relawan membuktikan dukungannya kepada walikota RK dalam bentuk karya dan kerja nyata.

rk3

Hanya saja, perlu diperhatikan oleh para relawan, bahwa sifat organisasi juga harus inklusif, terbuka, tanpa sekat, sederajat, semua berkontribusi secara aktif, tidak membebani tugas RK sebagai walikota, dan yang lebih penting fun dan menyenangkan. Pada awal kampanye relawan telah diingatkan bahwa Kang Ridwan Kamil menginginkan partisipasinya dalam pilwalkot ini berjalan dalam suasana kegembiraan dan keceriaan. Ia tak ingin proses politik yang diikutinya menjadi serius dan menegangkan. “Yang lain boleh serius dan tegang, kita mah fun dan happy aja” demikian Walikota RK mengingatkan para relawan dalam satu kesempatan.

Juga karena sejak saat ini, Kang Ridwan Kamil adalah milik warga kota Bandung. Tak hanya milik para relawan pendukungnya, atau 45% warga pemilih yang tercatat dalam hitungan KPUD, yang menjadikannya terpilih sebagai walikota. Kang Ridwan Kamil adalah juga milik warga kota yang tidak memilih. Baik untuk alasan karena mereka tak hadir di TPS atau kerena RK memang bukan pilihan mereka. Tapi, bukankah itulah esensi demokrasi yang sebenarnya. Penghormatan terhadap keberbedaan dan keberagaman?

Ketika dalam “1000 Kata Untuk Relawan”nya Kang Ridwan mengajak untuk membangun Bandung karena “kereta mimpi” itu sudah dekat. Pada akhirnya, kereta mimpi yang ditunggu-tunggu itu sudah tiba. Mari kita naiki gerbongnya bersama-sama, dan kita tempatkan Kang Ridwan Kamil duduk di kursi lokomotif, untuk membawa kita ke tujuan. Bandung kota Juara, di Indonesia.

Semoga.

  1. setuju Myudiman, tp tdk semua relawan sekelas dengan RK muda, kelas menengah dan kreatif. bahkan sebagian besar ada di lapisan bawah, yang kurang terbiasa fasih bicara apalagi menulis, dalam kehidupan sehari-hari mereka tidak selalu “fun and happy”, dan celaka jika kita “fun-fun dan happy-happy” saja dengan nasib mereka, empati dan simpati perlu diberikan secara konkrit, bukan kata-kata dan mengenali betul kebutuhan mendesak yang sedang dihadapinya………………sehingga kemenangan RK bukan kemenangan warga muda kreatif-kelas menengah saja, tapi kemenangan warga yang malah tidak mengerti apa itu “kreatif”……yang tidak “fun and happy”, tp mereka telah kembali ke tugas masing2 mencari nafkah, sebagai tukang ojeg, sopir angkot, pedagang kaki lima, tukang becak dan buruh kasar…………………dari lapisan inilah kita memulai…………..yaitu mereka yang tidak datang ke trans hotel untuk merayakan kemenangan……………………

    • Siaap Kang Deden, yang kreatif dan yang fun happy2 itu nanti membawa semangat mereka untuk relawan yang tidak datang ke hotel trans luxury. Membangun harapan bersama agar Bandung semakin baik dan menjadi kota juara🙂 Nuhun.

  2. Setuju kang. Ayo bentuk relawan pendukung Ridwan Kamil ini jadi komunitas. Jadi garda terdepan sosialisasi dan pewujudan program kerja. Namun tanpa eksklusifitas, perasaan superior dan sebagainya. Kita membantu demi Bandung, bukan kedudukan sosial.

  3. ada infonya kalo mau gabung?

  4. saya setuju kalau tim relawan RK-Oded dijadikan forum komunikasi non-formal sebagai tempat berbagi ide dan memberikan solusi utk masalah Bandung🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: