myudiman

Berbagi Inspirasi di Kelas Inspirasi

In Tidak terkategori on Februari 27, 2013 at 3:44 am

Ketika berkesempatan mendapatkan informasi tentang Kelas Inspirasi beberapa minggu lalu, saya memantapkan hati untuk ikut berpartisipasi. Ternyata, beberapa pengurus BCCF yang lain sperti Galih Sedayu, Dudi Sugandi, Grace Tobing, juga ikut mendaftar dan alhamdulillah lolos seleksi.

Dari BCCF, ternyata kami tak sendirian. Setidaknya Kang Ridwan Kamil, mantan ketua BCCF 2009 – 2013, dan Nancy Margried (CEO Batik Fraktal), juga telah mendaftar sendiri. Sekitar 10 hari sebelum hari H, saya pun bersama relawan kelas inpirasi lain, mengikuti taklimat di Saung Udjo Padasuka Bandung.

Di sini, saya berkenalan dengan teman kelompok dan mendapatkan pemberitahuan akan mengajar di SD Sukarasa 01 Gegerkalong Hilir. Teman kelompok saya, asyik-asyik dan keren-keren. Ada Diah Poppy, yang dokter Spesialis Kulit Kelamin, Maria Lubis yang penerjemah dan editor buku, Dienan Silmy yang sutradara, Eka Dwibhakti yang copywriter, dan Mogi Aria Kusumah, supply chain engineer di perusahaan minyak Total EP.

Untitled-1Menjelang hari inspirasi, dimana kami akan berbagi inspirasi, komunikasi diantara kami pun semakin intens. Selain twitter, dan email, kami pun berkomunikasi via aplikasi bertukar pesan  WhatsApp. Selain mempersiapkan materi pengajaran tentang profesi jurnalis, saya pun ketiban tugas mempersiapkan kenang-kenangan untuk SD Sukarasa 01, dalam bentuk piagam apresiasi.

Seru juga komunikasi yang terjalin dalam diskusi anggota kelompok di WhatsApp. Serunya persiapan masing-masing relawan, kondisi nervous dan grogi membayangkan harus mengajar anak-anak, ada yang gak bisa tidur, hingga curcol karena selain mempersiapkan piching kerjaan, kelas inspirasi, juga menyiapkan acara kawinan secara bersamaan. Heboh kan?

Waktu berjalan, dan Hari Inspirasi pun tiba. Rabu 20 Pebriari 2013, saya sudah bersiap sejak subuh, dan berangkat ke lokasi. Malam sebelumnya, kami mendapat kiriman email secara personal dari Pak Anies Baswedan, yang menyemangati kami dalam pelaksanaan kelas Inspirasi esok pagi. Dalam emailnya, Pak Anis menekankan agar para relawan memberikan pemahaman kepada para siswa setiap pencapaian keberhasilan diraih dengan menitikberatkan pada aspek-aspek kejujuran, kerja keras, pantang menyerah dan kemandirian.

Sebelum masuk kelas, para siswa SDN Sukarasa 01 dikumpulkan di halaman. Sebagai Ketua Kelompok, saya didaulat untuk menyampaikan sambutan mewakili para relawan. Saya pun berpidato sewajarnya sambil memperkenalkan para relawan pengajar kelas inspirasi lainnya. Dalam amatan teman-teman, saya cocok sebagai Kepala Sekolah, karena pidato saya yang cetar membahana serta memukau. Gak tau dia, saya cuma akting, dan mengamalkan teori penguasaan massa dari tulisan yang saya baca di buku strategi komunikasi. :p

Kelas pertama yang saya hadapi adalah kelas 5. Beruntung, karena dengan begitu saya tidak langsung berhadapan dengan kelas 1 yang pasti bakal menguras tenaga. Enaknya di kelas yang lebih tinggi, begitu saya bercerita sedikit tentang profesi jurnalis, langsung terjadi dialog interaktif yang membuat saya lebih binspi2anyak menjawab pertanyaan ketimbang menjelaskan. Sebelum waktunya usai, saya membuat game dengan mempersilakan beberapa siswa berperan sebagai wartawan dan sebagian lagi menjadi narasumber. Kelas pun langsung riuh, menanggapi aksi para wartawan cilik menggali informasi kepada narasumbernya.

Selanjutnya, saya ke kelas 6. Karena masih pagi, suasana belajar pun masih nyaman dan segar. Karena juga mereka sudah besar, sehingga lebih mudah diatur dan diarahkan. demikian juga dengan penyampaian materi relatif lebih mudah. Di kelas 6 saya punn meminta beberapa siswa untuk merasakan profesi jurnalis, dengan bertanya, membuat berita dan menulis.

Petaka itu kemudian datang saat tiba saatnya mengajar di kelas 1. Nah lho. Terlebih, untuk alasaan efektifitas, kelas 1 yang berjumlah dua kelas digabungkan. Alhasil para relawan pun harus berjuang, karena harus menghadapi 45 murid. Saya pun menghadapi kenyataan serupa.  Alhasil, Di kelas 1, sembari tertatih menjelaskan tentang cita-cita yang harus dimiliki oleh setiap anak, saya pun harus berusaha mendiamkan seorang anak yang menangis, beberapa anak yang lebih senang duduk di meja, serta berjuang keras menenangkan kelas yang terlanjur gaduh.

inspi3Di luar semua kehebohan itu, kelas inspirasi telah banyak memberi banyak hal yang memorable, bagi semua orang. Pada saat menyampaikan kenang-kenangan kepada sekolah. Eka yang mewakili kelompok menyampaikan bahwa salah satu kebahagiaan yang bisa didapatnya hari itu, adalah menyebarkan gagasan tentang cita-cita dan profesi yang bisa dikerjakan di masa depan, yang tak hanya dokter, insinyur, pilot, guru. Melainkan beragam profesi lain yang bisa dicapai dengan kejujuran, kerja keras, kemandirian dan keyakinan bahwa semua itu bisa diraih.

Kami mengakhiri hari inspirasi itu dengan kesadaran bahwa kami pun terinspirasi dari kepolosan dan ketulusan mereka. Juga kebaikan para guru, yang dengan segala keterbatasan yang dimiliki berjuang untuk memajukan pendidikan dan menjadikan para murid manusia yang berguna kelak, apapun profesi yang mereka jalankan. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: