myudiman

Belajar dari Kearifan Hidup William Soerjadjaya

In Resensi Buku on Januari 18, 2013 at 2:27 am

20121227_061304

Judul    : Man of Honor, Kehidupan, Semangat dan Kearifan William Soerjadjaya
Penulis : Teguh S. Pambudi dan Harmanto E. Djatmiko
Penerbit : Gramedia
Jumlah Halaman : 689 halaman

Beberapa tahun lalu, ketika saya membaca buku John P. Kotter, “Kepemimpinan Matsuhita, Pelajaran dari Seorang Wiraswastawan Terkemuka Dalam Abad ke 21”  (Prenhallindo, 2001), yang merupakan biografi industrialis terkemuka Jepang Konosuke Matshusita, saya mengangankan akan membaca buku yang sama, namun dengan tokoh utama seorang wirausahawan terkemuka Indonesia.

Penantian itu terjawab sekitar sepuluh tahun kemudian, saat membaca “Man of Honor, Kehidupan, Semangat dan Kearifan William Soeryadjaya, (Gramedia, 2012). Buku setebal 689 halaman ini, boleh disebut sebagai referensi yang paling lengkap dan sahih tentang sosok pendiri PT Astra International itu.

Man of Honor cukup menjawab banyak hal tentang sosok pendiri PT Astra International, yang didirikan tahun 1957 dan kini telah menjadi perusahaan raksasa dan induk bagi sekitar 167 perusahaan yang bergerak di berbagai sektor usaha, sejak alat-alat berat, otomotif, keuangan hingga perkebunan. Perusahaan ini juga menjadi gantungan hidup bagi sekitar 127 ribu karyawan.

Jika boleh membandingkan, perjalanan hidup Om William – begitu William Suryadjaya diakrabi, mirip dengan perjalanan industrialis terkemuka Jepang, yang bukunya saya sebut diatas. Kehilangan orang-orang tercinta di usia belia, merasakan kesulitan saat mengawali usaha. Beban berat saat harus perusahaan tercinta harus menerima pukulan usaha yang sangat berat, dihadapi William saat Astra yang dibesarkannya harus dilepas dan diderita Matshusita saat perusahaannya digolongkan Sekutu sebagai zaibatsu (perusahaan induk yang anti persaingan dan oleh karena itu nyaris akan dibubarkan).

Kesamaan mereka lainnya, adalah ketajaman insting saat menemukan peluang bisnis, persisten dalam memperjuangkan hidup, dan keduanya wafat dengan catatan sejarah yang ditulis dengan tinta emas, karena keteladanan sikap, dan warisan nilai-nilai luhur yang mereka tinggalkan.

Enterpreneurs Sejati

Ketika mengawali usahadi Majalengka, tak lama setelah penjajahan Jepang mulai berlangsung di Indonesia,  William mengawalinya dengan membeli kertas-kertas yang diikatnya dalam gulungan besar di Bandung, yang kemudian  dijualnya di Cirebon, wilayah yang ia kenal baik. Tak puas hanya berdagang kertas bekas,  ia pun pergi ke Majalaya, mencoba peruntungan berdagang kain tenun. Setelah benang tenun, ia berganti komoditas lain, yaitu minyak kacang, beras dan gula. Alasannya berbisnis sederhana saja, “Dengan berdagang, saya bisa membantu kehidupan sodara-sodara saya,” katanya (hal. 14).

Majalengka hanyalah sebuah kota kecil. Karena itu, ketika berkesempatan mengangkut barang dagangan dari Bandung ke Cirebon, ia melihat Kota Kembang akan memberi kesempatan yang lebih baik untuk memperbaiki kesejahteraan hidupnya. Ia pun ke hijrah ke kota berjuluk Paris van Java ini.

Di Bandung, ia mencoba berdagang di Pasar Andir. Berjualan palawija dan aneka hasil bumi lainnya ia tekuni. Usaha pengangkutan barang dialihkannya dari Bandung ke Jakarta. Setelah itu, ia ke Belanda untuk membantu adiknya dan bersekolah teknik penyamakan kulit. Sepulangnya ke Bandung, ia pun memulai usaha bisnis penyamakan kulitnya. Di Bandung juga, ia beroleh pengalaman hidupnya yang lebih berwarna. Masuk penjara akibat persaingan usaha, bisnis penyamakan kulit yang ia rintis harus ditutupnya karena merugi, ia kemudian hijrah ke Jakarta.

Astra International kemudian ia dirikan di Jakarta. Kata international sebenarnya hanya upaya William untuk memberi bobot pada perusahaan yang baru ia dirikan. Namun pencantuman kata ini juga membawa konsekuensi lain, yaitu pada logo yang juga harus menggambarkan konteks international. Akhirnya, terpilihlah logo bola dunia untuk  mempertegas visi globalnya. (hal 68-69).

Berbagai peluang usaha kemudian ditubruk perusahaan yang pada awalnya berkantor di Jl. Sabang, sebelum kemudian pindah ke Jl. Juanda II No 8 Jakarta, yang bagian depan digunakan sebagai kantor, dan bagian belakangnya menjadi tempat tinggal William. Hingga kemudian menjadi perusahaan raksana yang bergerak dalam beragam sektor industri, Astra telah melalui berbagai ujian dan deraan, yang mau tak mau juga turut dirasakan oleh William yang melahirkan dan membesarkannya, namun juga kelak harus melepaskannya untuk menjaga nama baik dan kehormatannya.

Buku ini menjadi karya yang monumental karena menjadi satu-satunya buku tentang Tjia Kian Liong aka William Soerjadjaya, seorang wirausahawan keturunan Tionghoa kelahiran Majalengka yang ditulis secara utuh dan lengkap. Meminjam memori kolektif dari orang-orang terdekat dan yang bersentuhan secara langsung dengan William, Man of Honor menjadi santapan visual yang nikmat, karena diracik dan diramu oleh Teguh S. Pambudi, dan Harmanto Edy Djatmiko, dua orang wartawan yang sangat kompeten dari sebuah majalah bisnis terkemuka di Indonesia.

Dari berbagai penggalan ingatan para narasumber inilah – keluarga terdekat, para mantan eksekutif dan profesional Astra, hingga para sekretarisnya – rangkaian keping puzzle tentang William menjadi sebuah gambaran yang utuh. Pembaca pun mengetahui bagaimana gaya William memimpin Astra, caranya memperlakukan karyawan, hingga hal-hal persoanal seperti sikap kedermawanannya dengan misalnya sering membagi tip kepada  orang-orang kecil. Selera kuliner, Om William juga sangat lokal,  Ia  gemar menyantap Sate Kambing “Hadori” di salah satu pojok stasiun Bandung.

Noblesse Oblige

Satu hal yang paling menarik dari biografi ini, adalah teladan  kepemimpinan yang ditunjukkan dengan kemauan untuk menjalankan apa yang disebut sebagai Noblesse Oblige-nya. Secara bahasa, ungkapan Noblesse Oblige bermakna semakin tinggi kedudukan seseorang, baik dalam ekonomi dan sosial, semakin besar tanggung jawab dan pengabdiannya kepada orang lain, termasuk kewajiban untuk memberi teladan hidup.

Prahara bisnis yang membuat Om William menunaikan Noblesse Oblige-nya dimulai ketika kasus Bank Summa milik salah seorang putranya, Eduard Soerjadjaya muncul ke permukaan, yang kemudian turut membelit dirinya sebagai pemilik pemegang saham Astra

William bisa saja menutup mata atas kasus yang menimpa anaknya ini. Ia juga bisa berkilah tak berurusan dengan praktek bisnis anaknya, dan mengemukakan berbagai argumentasi dan seribu satu alasan lain. William tidak melakukannya. Ia memilih untuk berlari dan bersembunyi, menunggu orang-orang diserang amnesia massal  dan para nasabah Bank Summa putus asa sendiri. William menempuh jalan penuh kehormatan, jalan penuh etika, serta prinsip yang bagi sebagian orang dipandang keliru, bodoh dan usang di zaman modern sekarang ini (hal. 677).

Begitulah, William telah mengajarkan melalui buku ini, apa yang harus dilakukan oleh para pebisnis, agar mereka dapat menjalankan bisnis dengan penuh etika. Dengan begitu, bisnis akan menjadi berkah tak hanya bagi para pelaku usaha. Juga pada manusia lain di sekelilingnya (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: