myudiman

Polusi Visual

In Umum on Desember 17, 2012 at 10:00 am

baliho

Setiap menjelang pemilukada, bersiap saja seluruh penjuru kota disuguhi oleh lanskap visual yang nampaknya akan segera menjadi biasa; foto-foto narsis orang-orang yang merasa diri paling pantas menduduki jabatan publik di pemerintahan, entah itu di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota bahkan hingga tingkat desa.

Masyarakat dan warga kota akan  sangat memahai jika foto yang dipampang itu dibuat dalam ukuran wajar. Yang ada, foto-foto itu dipasang seukuran raksasa, umumnya baliho yang kemudian merusak pemandangan kota. Yang membuat kita bertambah kesal, foto-foto tadi dilengkapi kata-kata dan kalimat bombastis; “Amanah dan Peduli Rakyat”, “Muda, Jujur, dan Berintegritas”, “Peduli Wong Cilik” dsb.

Terus terang, ingin sekali saya berteriak di hadapan baliho-baliho ini, dengan ungkapan para ABG yang kebetulan tengah ngetren. So, what gitu loh, atau mengutip iklan salah satu operator selular: “Terus gw harus koprol sambil bilang wow gitu?“. Tapi tentu saja hal itu tak saya lakukan. Alasannya? Sudahlah, yang waras ngalah. Orang-orang yang bekerja di bidang kreatif, khususnya copy writer, pasti punya pilihan kalimat lain yang lebih bernas ketimbang slogan dan jargon para narsiser tadi, jika diminta jadi konsultan komunikasi si Calon. “Baik Hati, dan tidak Sombong” bisa jadi pilihan, atau Si Anu, Calon Walikota 2012-2017 ” Suci dalam Pikiran, Perkataan dan Perbuatan”. Memangnya, Pramuka? hehe.

Kenyataannya, sudah terbukti apa yang ditulis dalam baliho dan poster-poster itu kebanyakan tidak pernah terwujud. Begitu para calon yang narsis ini terpilih sebagai pejabat publik, ya tentrem kertarahardja. Apa yang ditulis dan dijanjikan dalam poster, lupa deh.

Kembali ke urusan polusi visual yang menjadi subjek utama tulisan ini, para pemasang baliho sebenarnya tidak sadar apa yang mereka lakukan sudah melanggar perda kota tentang K3 atau ketertiban, kebersihan, dan keindahan. Mereka tak tertib karena memasang poster secara sembarangan dan tak memandang tempat. Sisa poster yang ada, juga tak pernah dibersihkan, ini pelanggaran “K” yang kedua. Melanggar Keindahan? Tentu saja. Lain halnya jika yang dipasang foto Dian Sastro atau Wiwid Gunawan. Yakin, tak ada faktor Keindahan yang dilanggar disana.

Masalahnya, seorang narsiser – kita sebut saja mereka narsiser, ya – yang merasa dirinya mampu untuk menduduki jabatan publik tertentu itu, biasanya sudah jauh-jauh hari memasang spanduk dan baliho tentang dirinya. Enam bulan, sebelum masa penjaringan, poster Ir, Polan, Msc Cagub Jabar 2012-2015, pasti sudah banyak bertebaran.

Agar tampak meyakinkan, ia juga menggabungkan foto dirinya dengan foto petinggi partai yang akan mengusungnya, sehingga terkesan si calon mendapat restu dari partai dan dekat sekali dengan kekuasaan. Padahal, dengan teknologi olah foto digital, hal itu jadi gampang saja di era sekarang.

Sialnya, Si polan yang Ir dan Msc, tadi ternyata tak terpilih sebagai cagub dari partai yang bakal mengusungnya. Ini karena si partai ternyata memilih calon lain yang lebih meyakinkan dari si Polan dalam banyak hal. Misalnya, kegantengan, popularitas, dan tentu saja asupan “gizi”nya yang lebih banyak dan bermanfaat.

Tinggalah si polan yang Ir. dan MSc ini, menyisakan baliho dan spanduk yang membuat sumpek seluruh kota. Tak ada keinginan dari Si Polan dan tim suksesnya untuk membereskan dan menurunkan baliho-baliho tadi dari ruang publik kota. Yang terkena getahnya, ya masyarakat dan warga kota, yang bahkan dalam mimpi mereka yang paling buruk-pun tak pernah berharap disuguhi pemadangan wajah-wajah para narsiser yang kepedean dan kentara sekali, kebelet ingin jadi pejabat. Si Ir Polan Msc sih, jangankan terpikir membereskan baliho dan spanduk sisa-sisa aktifitas narsisnya. Urusan yang harus dibereskannya mungkin adalah pelunasan sisa tunggakan pembayaran ke perusahaan cetak digital.

Pemerintah kota pun sayangnya, tak tanggap dengan aktifitas narsis para calon pejabat publik ini. Padahal jika dikelola secara serius, pemasangan baliho dan spanduk para narsisesr ini bisa jadi pemasukan daerah yang tidak sedikit. Jalur masuknya adalah pajak reklame. Para narsiser yang akan memasang baliho dikenakan tarif tertentu, dan untuk jangka waktu yang dibatasi pula. Jika kontrak pemasangan baliho sudah selesai, Pemkot berhak meminta tim sukses calon pejabat publik ini untuk menurunkan baliho jago-jago mereka, atau kalau tidak, tunggu saja, Satpol PP akan segera beraksi.

Sedikit saran untuk para narsiser; percayalah, pemasangan baliho dan spanduk bergambar Anda dengan petinggi parpol atau siapapun itu, tidak cukup efektif untuk membuat Anda terpilih sebagai pejabat publik. Kecuali, Anda punya wajah yang enak dipandang dan memang punya rekam jejak yang baik.

Kalau mau meniru Pak Obama, yang sukses jadi presiden Amerika untuk kedua kalinya, silakan ditanya apakah Pak Obama memasang spanduk dan baliho di jalan-jalan Amerika? Yang Ada, tim relawanannya secara berkala datang ke komunitas-komunitas, kelompok pelobi, dan calon pemilih potensial agar mereka mau menjatuhkan pilihan pada partai yang mengusung Pak Bama jadi presiden.

Pak Bama, sendiri sebelum jadi presiden telah bekerja kerasa menjadi pengacara publik untuk kaum marjinal dan terpinggirkan. Ia menggaas berbagai program berbasis komunitas, sebelum kemudian terpilih jadi senator. Dan Itu tak didapatnya secara instan. Di tingkat lokal, ada Pak Jokowi, walikota Solo yang sukses jadi Gubernur DKI. Pak Jokowi sukses jadi DKI1 tanpa banyak memasang baliho. Dibanding Bang Foke, pesaing kuatnya yang juga petahana, jumlah spanduk dan baliho yang dipasang tim Jokowi kalah jauh. Ini karena masyarakat Jakarta sekarang lebih memilih figur dan melihat rekam jejak, meski tanpa banyak pasang baliho, Toh, Pak Jokowi juga yang menang.

Terus, sekarang kan sudah musimnya facebook, twitter, youtube, instagram dan layanan jejaring sosial lainnya. Manfaatkanlah semua itu secara maksimal. Kemas dan promosikanlah program-program secara kreatif, yang akan membuat calon pemilih Anda tertarik. Kalau Pak Obama punya 24 juta pengikut di twitter, dan gubernur DKI Bang Jokowi dikintili 200 ribuan pengikut, usahakan Anda bisa meraih lebih dari itu. Dijamin, komunikasi secara viral lewat jejaring media, akan lebih efektif ketimbang Anda memasang seribu baliho.

Nah, kalau para narsiser di sini, berharap bisa terpilih jadi pejabat publik hanya dengan memasang poster dan baliho, ya itu mah mimpi di siang bolong atuh.

Bangun euy bangun. Sudah tahun 2012 ini. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: