myudiman

Nasionalisme, Kesejahteraan dan Neolib dari Kacamata Seorang Wartawan

In Resensi Buku on November 27, 2012 at 7:02 am

Resensi Buku
Judul : Indonesia For Sale
Penulis : Dandhy Dwi Laksono
Editor : Hadi Rahman
Penerbit : Pedati, Surabaya 2009.
Jumlah Halaman: 311 halaman

Download versi PDF: https://www.box.com/shared/421b360d4e53458135ea

Bagaimana menjelaskan gagasan Neoliberalisme atau yang biasa dengan gagah disingkat Neolib kepada masyarakat kebanyakan. Bingung? Tentu saja. Biasanya, diskusi tentang diskursus yang satu ini, selain akan menjemukan, juga selalu diisi oleh komentar orang-orang yang merasa pintar dan mengerti dengan persis apa itu Neolib.

Nah, pengarang buku ini juga merasa turut berkepentingan untuk menjelaskan gagasan tentang Neolib kepada khalayak. Untungnya, penjelasannya ternyata mudah dicerna, enak dibaca, dan tentu saja disampaikan dengan cara yang tidak sok pintar dan sok mengerti. Beberapa malah disampaikan dengan cara jenaka, sehingga mengundang tawa.

Meski Neolib menjadi gagasan utama buku ini, namun penulis secara cerdas mengupas isu lain yang tak kalah seru, yaitu bagaimana sebuah negara bernama Republik Indonesia tempat penulis hidup dan beraktifitas sehari-hari, secara pelan-pelan dan setahap demi setahap mulai mengalami berbagai macam benturan terkait persoalan nasionalisme dan kesejahteraan warganya.

Sepanjang usia republik, sikap dan rasa nasionalisme tentu telah tertanam di dada sekian juta rakyat dan bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa telah menjadi contoh bagaimana nasionalisme dibangun, dan dipertahankan dengan darah dan air mata. Bahkan, hingga saat ini, nasionalisme banyak ditunjukkan secara terbuka dan terang-terangan oleh individu maupun oleh berbagai organisasi dan lembaga pemerintahan. Contoh sederhana, “NKRI adalah Harga Mati” menjadi slogan yang paling laku dan laris dipasang dalam banner dan spanduk di kantor-kantor instansi militer.

Nah, bagaimana dengan kesejahteraan? Itu dia. Mau tau dimana bisa melihat mobil mewah berseliweran setiap harinya? Ya di jalan-jalan Jakarta. Mobil mungkin hanya salah satu simbol kesejahteraan. Apartemen dan komplek pemukiman mewah, belomba-lomba mencakar langit Jakarta dan kota-kota besar di Indonesia. Apakah semua ini ini dibeli denganuang tunai atau kredit, tidak perlu jadi debat kusir.Toh, banyak kok yang rela beradem-adem di dinginnya AC mobil, meski untuk itu harus nyicil dan memotong dari uang gaji 3 – 5 tahun lamanya.

Nah,untuk soal kesejahteraan ini sayangnya tidak dinikmati oleh mayoritas rakyat dan penduduk Indonesia. Mayoritas rakyat Negara ini, terutama mereka yang hidup di Jakarta, harus rela tinggal di kawasan pinggiran, dan saat berangkat bekerja di pagi hari dan pulang di sore hari harus tabah dilayani sistem manajemen transportasi yang buruk, dan tentu saja dengan kemacetan sebagai bonus. Transportasi hanya satu soal. Pelayanan publik yang sama buruk dan amburadulnya adalah soal lain.

Sebagai wartawan muda yang sarat pengalaman, Dandhy tentu saja gemas dan risau dengan keadaan ini. Apalagi profesi jurnalis adalah pilar ke-empat demokrasi sekaligus anjing penjaga (watch dog). Oleh karena itu, keresahan dan kegemasannya pada paradox antara nasionalisme dan kesejahteraan rakyat, nasib negara dan bangsa dan kesalahtatakelolaan (mismanagement) pemerintahan, direcokinya dengan senarai informasi yang tak hanya mengejutkan tapi membuat kita (harusnya) shock berat saat membacanya.

Informasi yang ditulis Dandhy, boleh jadi bukan sesuatu yang baru bagi sebagian kalangan. Tapi bagi masyarakat kebanyakan, informasi-informasi seperti; Indonesia sebagai produsen CPO terbesar di dunia, namun harga jualnya ditentukan segelintir manusia di Pasar Derivatif London, tentu akan membuat orang menggeleng kepala – Tentu, setelah dengan sederhana Dandhy menjelaskan bagaimana mekanisme itu dimungkinkan terjadi.

Atau sebagai produsen timah no dua dunia, Indonesia sukses sebagai pengekspor timah terbesar nomor dua setelah Cina. Kita boleh bangga sebagai eksportir. Namun para ekonom kritis seperti Hendri Saparini, yang datanya dikutip Dandhy dalam buku ini, cara membaca menjadi lain. Ini berarti Indonesia hanya sukses sebagai eksportir barang mentah dan tidak mampu meningkatkan nilai tambah timah sebagai barang jadi (hal 78).

Ulasan menarik juga bisa dibaca dalam bab “ATM Diisi Lalu Dijual” (hal 96-201) yang secara sederhana menjelaskan proses alih kepemilikan BCA. Bank ini dulunya dimiliki konglomerat Liem Sioe Liong, yang karena krisis politik dan ekonomi tahun 1998 menjadi pasien BPPN. Pemerintah kemudian menyehatkannya dengan menyuntik obligasi senilai 58 triliun yang lantas menjualnya senilai 5,3 triliun kepada konsorsium Farallon yang berpatungan dengan Grup Jarum. Proses penjualan BCA dan asset-aset lain ini terjadi di saat Megawati menjadi presiden (hal 200).

Masih banyak kerisauan cum kegalauan penulis buku ini tentang banyak hal yang terjadi di Republik ini. Jalan umum yang diportal penghuni kompleks pemukiman mewah, pengelolaan bisnis air minum oleh swasta asing yang amburadul, mazhab ekonomi Pak Wapres Boediono yang neoliberal, soal utang luar negeri yang menggunung, hingga soal makelar yang mengurusi tenaga alih daya (outsourcing).

Buku ini menjadi – mengutip semboyan Majalah Tempo – enak dibaca dan perlu, karena ditulis dengan melibatkan pembaca tak hanya sebagai penikmat rangkaian kata-kata, dan runtutan kalimat. Indonesia For Sale mengajak pembaca untuk turut berfikir, menafsir logika-logika ekonomi sederhana, dan sesekali menertawakan kebodohan diri sendiri sebagai pemilik sebuah negara dan bangsa bernama Indonesia. Dalam menuliskan isi kepalanya, penulis bertutur menggunakan kata ganti orang pertama, dan menjelaskan masalah dari sudut pandangnya sebagai wartawan. Sesekali, ia juga memasukan dialog-dialog – yang nyata maupun imajiner – dengan masyarakat kebanyakan yang membuat narasi buku ini mengalir dan hidup.

Karena penerbit buku ini (Pedati) tutup, penulis buku ini kemudian mengcopy-leftkan buku ini dengan mempersilakan pembaca mengunduhnya secara gratis di internet. “Menjelang kenaikan hagra BBM dan renegosiasi kontrak karya pertembangan yang tak kunjung clear, saya menghibahkan buku “Indonesia for Sale” untuk dibaca siapa saja dalam format PDF,” tulis Dandhy dalam surat yang dikutip Acehkita.com. Mudah-mudahan, upaya mengratiskan buku ini menjadi jalan bagi penulis dan penerbitnya sebagai ladang amal mencerdaskan masyarakat. Ditawari gratisan, siapa yang tak senang?

Tapi boleh kok ditanyakan kepada khalayak, apakah rela jika Indonesia For Sale? Jawabannya pasti serentak dan bergemuruh. Tidaaaaaaaaakkkkkkk.

Itulah Nasionalisme Kita. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: