myudiman

Kisah Cinta Tak Sampai Berlatar Tragedi Nasional

In Resensi Buku on November 14, 2012 at 9:28 am

Resensi Buku
Judul : Amba
Pengarang : Laksmi Pamuntjak
Penerbit : Gramedia
Jumlah Halaman : 494 halaman

 

Dalam cerita komik Mahabharata karya RA Kosasih, Cinta Dewi Amba, kepada Bhisma adalah cinta yang tertolak. Tiga kali Bhisma menolak ungkapan cinta Dewi Amba, hingga pada akhirnya Bhisma harus membunuh perasaan cinta itu dengan panah yang dilesakannya ke tubuh sang dewi. Meski dipenuhi rasa penyesalan yang sangat, Bhisma tahu ia tak bisa membalas cinta Amba karena terikat sumpah. Ia tidak akan menikah sepanjang hayatnya agar tidak memiliki keturunan, dan dengan begitu kerajaan Hastinapura yang didirikan ayahnya tidak mengalami perpecahan dan perebutan kekuasaan. Sumpah yang membuatnya dihormati para dewa di Kahyangan.

Dalam “Amba” karya Laksmi Pamuntjak, cinta Amba kepada Bhisma, dan begitu juga sebaliknya adalah cinta yang terseret arus kehidupan. Cinta keduanya hanyut selama sekitar 40 tahun karena kecelakaan sejarah yang membuat keduanya terpisah. Keduanya tidak merencanakan diri untuk terlibat di dalam peristiwa ini. Amba dan Bhisma secara tak sengaja terseret ke dalam sebuah pusaran peristiwa politik yang mereka sendiri tak pernah berpipikir dan tertarik untuk menjadi pelakunya.

Okelah, Bhisma memang bersimpati pada gerakan kiri yang kemudian menyebabkan terjadinya kegaduhan nasional itu, pembantaian manusia yang terindikasi terlibat, hingga pengiriman mereka yang dicap sebaggai Golongan B ke pulau Buru, sebuah pulau di Maluku yang dulunya digunakan kolonialis Belanda untuk membuang para tahanan. Tapi Bhisma bukanlah pelaku gerakan makar itu. Ia bahkan bukan anggota partai. Pada malam penyerbuan ke Universitas Res Publica Yogyakarta itu, ia hadir untuk menghormati karibnya yang mati terbunuh dalam bentrokan akibat situasi politik yang semakin memanas.

Sedangkan Amba hanyalah seorang gadis dari kota kecil Kadipura yang pada masa itu berpikiran terlalu maju untuk perempuan seusianya. Ia yang mengolok-olok kepasrahan ibunya karena kerelaan sang ibu menikah di usia muda, dan diperistri seorang kepala sekolah padahal ibunya adalah kembang desa yang bisa saja menikah dengan pria manapun yang dikehendakinya. Ia bersumpah untuk memilih jodohnya sendiri, setelah ia menyelesaikan pendidikannya di perguruan tinggi. Pendirian yang ditentang adiknya Ambika, dan tentu saja ditangisi Ibunya.

Begitulah Laksmi memperkenalkan tokoh sentral cerita ini, Amba dan Bhisma kepada pembaca. Tentu, masih ada tokoh lain seperti Salwa, tunangan Amba yang setia yang tidak mengetahui calon pendamping hidupnya itu telah menemukan cinta lain, saat menerima tawaran kerja menerjemahkan teks kedokteran di sebuah rumah sakit di Kediri. Salwa, diceritakan berwajah pucat dan cekung, berkacamata, dengan sedikit kumis dibawah hidungnya yang mancung. Salwa adalah calon dosen yang di Fakultas Pedagogi (sekarang Fakultas Kependidikan) UGM, yang percaya pada kekuatan cinta, meski mereka terpisah jarak dan waktu. Keluarganya datang dari dua kutub, ayahnya anggota Muhammadiyah, dan ibunya lahir dari keluarga besar NU. Namun Salwa memilih tidak akan mau menyerahkan dirinya kepada agama dan politik.

Selebihnya adalah kemampuan Laksmi meramu cerita dengan pemaparan yang memukau, dan bahkan untuk beberapa bagian terkesan terlalu gurih dan memesona. Ini karena pilihan kata dalam bahasa Indonesia yang digunakannya menjadikan prosa sebagai puisi, dengan tafsir yang sepertinya diserahkannya kepada pembaca. Seperti ini : “ Maka, si putri sulung hengkang, mendahului rembulan dan desas-desus, dengan bayang yang tak dicatat oleh pohon. Angin masih menyimpan sengak darah yang disisakan matahari sebelum memutuskan menyeberang ke belahan dunia lain dan tak menengok seorang perempuan yang telah menanggunkan aib dua kali” (hal. 307).

Selain itu, sebagai seorang penyair – Ia telah menulis dua buku kumpulan puisi – Laksmi juga tak ragu menulis beberapa bagian dari buku ini dan surat-surat Bhisma kepada Amba yang tak terkirimkan, dalam larik dan bait-bait puisi. Jadi tak perlu heran juga jika kita menemukan kutipan sajak Berthold Brech, Rosa Luxemburg maupun (Pablo) Neruda, dan tentu saja bait-bait dari Serat Centini yang bertaburan disana-sini.

Pada Amba, Laksmi tak melulu berbicara tentang cinta yang tertunda dan akhirnya kandas. Ia juga menulis tentang eksotisme dan kemisteriusan Pulau Buru, tempat Bhisma dikirim sebagai bagian dari gelombang ketiga, dan menjadi sebuah catatan hitam dalam perjalanan sebuah bangsa. Tempat dimana sekitar sepuluh ribu orang manusia, dipenjarakan karena ideologi yang mereka pilih, atau mereka yang lebih banyaknya tidak pernah mengetahui latar belakang dan alasan mengapa mereka kemudian termasuk golongan yang terpilih (untuk dikirim kesana).

Seperti penjelasan pengarang di awal buku, Amba memang bukan novel sejarah. Ia novel berlatar belakang sejarah. Sejarah di masa lalu tentang pertarungan ideologi yang kemudian menjadi keramat dan ditabukan oleh mereka yang memenangkan pertarungan, dan sejarah di era kekinian ketika manusia saling bunuh membunuh karena agama dan keyakinan yang mereka anut. Laksmi merangkai kedua peristiwa ini dalam jalinan cerita memikat dengan cara penceritaan kilas balik, yang membuat kita pembacanya segera ikut terlempar mengikuti alur cerita yang disajikan pengarang.

Memang, ada saat ketika kisah tokoh-tokoh Amba seperti dibuat tanggung dan kabur oleh pengarang. Pertemuan Amba dengan Adalhard Eilers yang menjadi lelaki ketiga, surat pamitnya kepada Salwa dan Bapak, dan masa-masa ketika Bhisma hilang dan dikapalkan ke pulau Buru, yang hanya ditandai dengan ilustrasi tanda silang berwarna merah darah. Tapi disinilah kepiawaian Laksmi mengaduk-ngaduk rasa penasaran pembaca. Menjelang akhir cerita, Salwa yang terlupakan ternyata muncul lagi karena diceritakan oleh Bhisma lewat salah satu suratnya kepada Amba yang tak terkirimkan.

Di Surat itu, Bhisma bercerita bahwa ia didatangi Salwa ketika meringkuk di penjara di Salemba. Dari sipir penjara, Bhisma tahu bahwa Salwa memiliki sejumlah kenalan di Kejaksaaan Agung. Mereka pun berdialog, dengan Bhisma menyebut Salwa sebagai Mas Salwa dan Salwa menyebut Bhisma dengan saudara. Sebuah percakapan yang dituliskan dengan getir, karena keduanya adalah korban cinta dari seorang wanita. Salwa karena cinta dan kesetiaannya yang dikhianati, dan Bhisma karena cintanya tertolak oleh kejadian berlatar politik.

Dan Adalhard, sang lelaki ketiga kemudian dipilih Amba menjadi suami. Bukan karena ia mencoba berpaling dari Bhisma yang setelah terpisah dari peristiwa penyerbuan di universitas hilang tak tentu rimbanya. Tapi karena Adalhard mau menerima hidup Amba dan bayi yang ada dalam kandungannya sebagai hidupnya. (hal 390).

Buku ini pun menjadi satu dari sedikit literasi tentang peristiwa berlatar kegaduhan nasional di tahun 1965, yang ditulis dengan piawai dan cantik. Bukan karena proses pengerjaannya yang membutuhkan waktu delapan tahun, dan riset yang dikerjakan dengan serius. Buku ini menjadi karya yang layak dinikmati karena dibuat dengan kesungguhan dan ketulusan. (*)

  1. Laksmi juga “memanfaatkan” cinta segitiga Amba Bhisma dan Salwa dalam pewayangan Mahabarata yg mempunyai kisah persis sama. makasih Kang! resensinya memikat sekali :p

  2. Reblogged this on SISCAVIASARI.WORDPRESS.COM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: