myudiman

Alun-alunku Sayang Alun-alunku Malang

In Umum on Desember 6, 2011 at 11:06 am

Alun-alun kota Tasikmalaya suatu sore. Saya duduk-duduk sembari menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Semilir angin, dan semburat lembayung menyelinap diantara kerimbunan pepohonan besar yang sudah sejak lama tumbuh. Beberapa orang anak sekolah duduk-duduk di sudut. Sementara sepasang suami istri, memilih berjalan santai diiringi tawa riang sepasang putera-puteri mereka.

Di pelataran monumen, beberapa orang tua asyik ngobrol melepas penat sesuai berolahraga ringan sore hari. Monumen alun-alun dihiasi patung perunggu sepasang pemuda dan pemudi mengibarkan pataka Parasamya Purna Karya Nugraha, sebuah penghargaan atas pencapaian keberhasilan pembangunan di era orde baru.

Monumen juga menyimpan berbagai prestasi yang dicapai kota Tasikmalaya dalam bentuk diorama. Prestasi pembangunan di bidang pertanian, pendidikan, kesehatan dan banyak lagi. Bangunan monumen terbuat dari susunan batu andesit berwarna abu kehitaman, yang meski sudah dimakan usia, namun masih gagah dan nyaman dipandang mata.

Oya, alun-alun kota juga dilengkapi beberapa kursi taman yang pada sore-sore seperti sekarang ini, banyak digunakan warga kota untuk tempat mereka menghabiskan hari. Kursi-kursi ini ditempatkan sedemikian rupa, di sela-sela lampu taman besar dengan dekorasi yang indah dan memberi terang saat siang berganti malam.

Rumput alun-alun dan aneka tanaman penghias tertata rapi, menandakan pengurusan yang teratur dan pengelolaan yang baik. Saya memanggil seorang penjaja minuman dan memesan sebotol minuman dingin.

Ah, sebuah pengalaman menikmati senja yang tak terlupakan.

Alun-alun kota Tasikmalaya sudah sejak lama ada. Sejauh ingatan saya, memori tentang alun-alun sudah muncul dalam ingatan sejak saya bersekolah di TK Pertiwi awal tahun 1980an. Lokasinya saat itu masih di dekat kantor Sturada (Studio Radio Daerah). Persis, di samping gedung pendopo Tasikmalaya.

Saat itu, tentu saya belum mengerti apa itu alun-alun. Maklum masih bocah. Selain itu, kebanyakan ingatan tentang alun-alun hanya saya peroleh dari foto-foto aktifitas yang menggambarkan alun-alun sebagai latar. Namun menginjak kelas 5 -6 SD (sekitar tahun 1984 – 1985), alun-alun memberi gambaran ingatan yang semakin jelas kepada saya.

Setiap bulan puasa tiba, alun-alun menjadi lokasi favorit menghabiskan waktu sepanjang asar hingga magrib. Ngabuburit, menunggu datangnya waktu berbuka. Saat ngabuburit itu, saya menghabiskannya dengan menyewakan komik dan buku-buku cerita yang menjadi koleksi saya. Diantaranya, cergam Deni Manusia Ikan, beberapa judul komik Tintin, cergam Trigan, Kisah Petualangan Arad dan Maya, beberapa edisi majalah Bobo, dan sekian judul buku Petulangan Trio Detektif dan Lima Sekawan. Tidak semua buku ini saya miliki, kadang-kadang saya berkongsi dengan beberapa kawan agar koleksi lapak penyewaan komik saya lebih banyak dan komplit dibanding pesaing.

Hasilnya? Namanya juga usaha. Kadang komik-komik saya laris disewa pembeli, kadang-kadang hanya sedikit yang mampir karena mereka sebelumnya sudah membaca dan melihatnya di tempat lain. Saat itu, biaya sewa dan membaca di tempat, murah meriah saja ; Rp 25,-/komik. Sebagai perbandingan, harga semangkuk baso masih Rp 300,- dan jika bisa membawa pulang Rp 300,- saja maka hari itu saya akan membawa beragam ta’jil ke rumah. Sejak cilok, gorengan, es orson, hingga kolek dan aneka penganan lain. Maka lengkaplah di meja makan, penganan berbuka saya sore itu, yang umumnya tidak pernah bisa saya habiskan karena keburu kekenyangan.

Beranjak SMP dan SMA, saya sudah tidak lagi menyewakan komik di alun-alun. Selain sudah tidak lagi menarik dari sisi bisnis, koleksi komik saya juga semakin berkurang. Lagi, alun-alun juga sudah tidak lagi menjadi meeting point dan lokasi tujuan ngabuburit favorit. Selain itu, karena bersekolah di SMPN 1 yang bertetangga dengan alun-alun, kegiatan mata pelajaran olahraga sesekali berlangsung di sana. Lagi pula, pergi dan pulang sekolah pasti memintas jalan lewat alun-alun. Lambat laun, pudar sudah pesona alun-alun di mata saya.

Hanya saja, saya masih tetap mau diajak kawan-kawan sepor alias lari pagi ke alun-alun setiap minggu pagi. Sepor-nya sih bukan yang utama. Seringnya saat lari pagi itu, kita bertemu teman-teman yang lain, dan lebih senang lagi jika ada teman perempuan yang ikut bergabung juga. Seronok, kalau kata Ipin dan Upin. Ah, indahnya masa remaja.

Selepas SMA, karena harus bersekolah di kota lain, saya pun meninggalkan Tasikmalaya tercinta. Sementara saya pun harus melupakan alun-alun kota. Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di Ibukota, dan semakin terpisah dari kota Tasik dan alun-alunnya yang melegenda.

Beruntung, sore ini saya dapat menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Mengenang masa lalu, mengurai ingatan indah masa kecil, menyesapi aroma rumputnya yang menghijau, keceriaan anak-anak yang bermain-main, senda gurau orang-orang tua.

Tiba-tiba seseorang mencolek saya.

Ieu angsulna Pa,” (Ini uang kembaliannya, Pak), katanya.

Suara mamang penjaja minuman menyadarkan saya. Saya tergagap sebentar. Agak lama sebelum kesadaran saya kembali muncul. Saya terima uang kembalian minuman botol sembari mengucapkan terimakasih.

Alamaaak, saya ternyata sedang melamun. Alun-alun kota yang indah tertata rapi, tempat anak-anak bermain, sarana olahraga orang-orang tua di sore hari dan ruang publik favorit warga ini ternyata cuma ilusi dan lamunan saya.

Yang nyata di hadapan, alun-alun kota yang tak terurus, rumputnya yang sudah jarang di sana-sini, paving block yang bolong-bolong dan bisa bikin celaka, lampu taman yang rusak, pagar pembatas yang catnya sudah memudar. Beberapa waktu lalu, patung di monumen bahkan sempat tak punya kepala. Syukurlah, sekarang ini kepala patung sudah kembali utuh.

Saya menghela nafas.

Saya pulang dengan lunglai.

  1. Alun-alun teh nuju di dangdosan cenah, kang… engke kawas kumaha nya?😀

  2. wah, kang yudi punya kenangan segitunya sama alun-alun tasik, ngiriii..
    semoga alun-alun tasik kelak bisa jadi ruang publik yang asik🙂

    • Ya Dee, saya beruntung punya kenangan pada alun-alun di kota tempat saya tumbuh dan dibesarkan. Dulu mungkin belum dikenal istilah ruang publik. Tapi alun2 sudah melampaui zaman sebagai ruang publik itu sendiri. Yuk kita dorong alun2 dan space lain yang ada di Tasik untuk jadi ruang publik yang asik?🙂

  3. Ternyata ngalamun, agak sedikit reuwas krn lebaran kemarin saya n kel main ke alun2 tapi tak seindah gambaran “kang Moel” tapi mudah2an bisa jadi seperti yang dibayangin

    • Iya Put, ternyata cuma ngelamun punya alun-alun kota yang asyik dan bisa jadi tempat kongkow favorit. Yuk kita berdoa dan berusaha agar apa yg diinginkan dan diangankan bisa terwujud🙂

  4. tergantung dg siapa ke sananya he he… dulu pergi sama anak2 baceo seru2an disana. Ingat masa2 di Tasik. Malam2 sepedaan menikmati kegaduhan klub motor yang berjajar berdasarkan merknya. Kenangannya juga masih ada sampai sekarang…merindukan Tasik… jaman sudah berubah ya Kang… anak2 jaman sekarang menikmati alun2 dengan caranya sendiri

    • Hallo Yos, setuju ama Yosi. Setiap orang punya cara sendiri untuk menikmati alun-alun. Klub motor yang kongkow, sesepedaan, dan semuanya pasti seru. Mudah-mudahan jika kondisi alun-alun lebih baik, jadi banyak orang yg mau datang kesana🙂

  5. Bermimpi juga punya alun-alun yang nyaman dan indah, di mana setiap saat bisa datang ke sana, duduk di bangku2 di bawah rerindangan pohon sambil melihat kehijauan di sekeliling. Alun-alun Tasik skrg ramenya hanya sesaat, pas bulan puasa saja. itu pun rame sama yang jualan. hehehe …. mudah2an Bapak-bapak Tasik yg lagi merenovasi alun-alun bisa memberikan suasana alun-alun yg lebih nyaman dan indah nantinya. Amin ah😀

  6. mudah2an alun2 tasik kembali ke fungsinya….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: