myudiman

9 Summers 10 Autumns ; Catatan Kenangan di Sepenggal Jalan

In Tidak terkategori on April 1, 2011 at 1:20 am

Membaca 9 Summers 10 Autumns, segera saja ingatan saya melayang ke cerpen Umar Kayam “Seribu Kunang-kunang di Manhattan”. Bukan pada Jean dan Marno, dua tokoh sentral cerpen itu, yang ngobrol tak tentu arah sambil berleha-leha di sofa, tapi pada beberapa lokasi yang disebut dalam cerpen. Manhattan yang berkelap kelip disinari ribuan lampu, layaknya kunang-kunang di waktu malam, dan Cetral Zoo Park.

Pada novel,  9S10A, beberapa tempat di kota Big Apple ini juga cukup sering disebut. Wechester Ave, SoHo, Saks Fifth Ave atau lapangan Times Square, yang selalu jadi pusat aktifitas manusia New York di  malam tahun baru. Meski kemudian penulis juga bercerita tentang ruang tamu ukuran 2 x 4,5 m di sebuah rumah kecil di Batu, tempat kos di pinggir sungai ciliwung di Bogor, tempat kos lain di sebuah gang di Tanah Abang, Wisma Dharmala dan kawasan bisnis Sudirman di Jakarta, dan tempat-tempat lain yang pernah disinggahinya.

Begitulah cara Iwan Setyawan melukiskan memori masa kecil hingga kemudian ia “terdampar” dan menjadi pekerja sebuah perusahaan global di New York dalam jalinan cerita yang memukau, menggugah rasa, mengantarkan tawa, hingga membuat air mata berlinang di pelupuk. Ia juga bercerita tentang keluarganya, teman-teman, kolega di tempat kerja, anak kecil berseragam merah putih yang menjadi “teman curhat” hingga urusan percintaannya. Begitu menyentuh. Begitu filmis.

Simak testimoni yang dibuat oleh seorang pembaca 9S10A di halaman Facebooknya: I just finished reading your book less than 48hr. The way you tell the story is simple yet very elegant and beautiful. I cry and laugh reading it. To be honest 9 Summers 10 Autumns is the most inspiring book i ever read in my 22 years of life. I have to tell my girlfriends to read your book, its way amazing. Thank you for sharing your journey, truly inspiring. Begitu jujur dan tulus.

Dan kalau kemudian saya juga merasa ke-geer-an untuk menulis review tentang novelnya ini, boleh jadi karena sepenggal jalan tempat kami pernah sama-sama tinggal saat mengecap kehidupan di Jakarta. Pada buku 9S10A, Kebun Pala II ditulisnya di halaman 169. Sepenggal Jalan, sebentuk kenangan.

Gang Kebon Pala II, adalah sebuah gang sempit yang menyambung dengan gang Kebon Pala I dan III. Ketiganya saling menghubungkan satu dengan yang lain dalam kerumitan labirin di ibukota. Pintu masuk gang di Jl. KH. Mas Mansur – jalan besar dan sibuk menuju kawasan Pasar Tanah Abang –  agak sedikit lebar namun semakin menyempit saat kita masuk lebih ke dalam. Jika berpapasan, pengendara motor harus berhenti, dan memberi kesempatan kepada motor lain untuk melaju lebih dulu. Selokan di pinggir gang, seperti kebanyakan saluran drainase di Jakarta, selalu kotor, mengalirkan air kehitaman dan aneka rupa sampah. Pada malam hari, tikus-tikus got sebesar “gaban” akan keluar dari sarang-sarang mereka untuk mencari makan.

Disinilah saya kenal Iwan, yang sudah lebih dulu kos disana. Waktu itu, Iwan sudah menjadi “eksekutif muda”, dan berkantor di kawasan bisnis Jakarta. Sementara saya tengah merintis karir sebagai wartawan di Majalah SWA, sebuah majalah ekonomi dan bisnis.

Iwan menempati kamar di lantai bawah, terpisah dari rumah induk, dan harga sewanya lebih mahal. Sementara saya menempati kamar di lantai dua, yang berlantai kayu, berdinding triplek, dengan hawa panas menyergap saat pintu dibuka, waktu pulang ke kos setelah beraktifitas seharian.

Saya tidak terlalu dekat dengan Iwan secara pribadi. Kesibukan kami saat bekerja membuat komunikasi kami pun berlangsung singkat seperti umumnya hubungan antar penghuni kos. Biasanya, kami bertemu hanya ketika sama-sama menunggu giliran mandi, saat sama-sama berangkat ke tempat kerja, atau saat rehat di kos waktu libur di akhir pekan. Di waktu-waktu seperti itu, kami ngobrol singkat tentang hal-hal ringan. Adakalanya tentang pekerjaan, tentang Pak Andi Hakim Nasution, tentang Pak Raden Pardede yang jadi bosnya di Danareksa, dan obrolan ringan lain.

Iwan bergaul cukup erat dengan lingkungan kos tempat kami tinggal. Jadwal kerjanyanya yang teratur, membuat Iwan punya waktu di kos lebih banyak, ketimbang saya yang jadwal kerjanya tak beraturan, sehingga tak cukup punya waktu untuk bersosialisasi, (9S10A, hal 183).

Ia pun ringan dalam menolong. ia membantu saya memilih dasi miliknya yang dapat saya pakai ketika saya harus meliput sebuah konfrensi di Singapura yang sekaligus menjadi perjalanan pertama saya ke luar negeri. Iwan juga yang membantu mempadupadankan dasi dengan kemeja yang akan saya kenakan. Jadilah kemudian saya hadir dalam konfrensi di kawasan Suntec Singapura itu dengan dasi pinjaman.

Sempat juga menjelang masa-masa keberangkatannya ke Amerika,dalam sebuah obrolan ringan Iwan bercerita tentang wawancaranya dengan calon bosnya di kantor Nielsen Research di New York. Ingatan tentang obrolan ini yang kemudian saya temukan, di hal 188, saat ia diwawancara Rickie Khosla, dari Kanotr Nielsen di NY. Waktu itu, meski sedikit “iri” dengan keberhasilan karir teman saya itu, terselip juga rasa bangga pada kawan satu kosan di Kebon Pala ini. “Hebat juga ada penghuni kos kebon pala yang akhirnya bisa berkarir di New York,” pikir saya.

Kembali ke bukunya, begitulah, 9S10A menjadi sangat menarik karena tak hanya bercerita tentang perjuangan memenangkan hidup. Saat sama-sama kos di Kebun Pala, Iwan sudah jadi eksekutif muda dan tak memperlihatkan sisi personalnya yang anak sopir angkot di Malang. Ia malah terlihat pede dan bergaya layaknya, itu tadi “eksekutif muda”.  Berkemeja lengan panjang dan berdasi saat bekerja, dan berkantor di kawasan bisnis Jakarta – Belakangan, lewat obrolan di telepon, setelah saya khatam membaca bukunya, ia mengaku teman-temannya di Jakarta, tak ada yang tau soal latar belakangnya ini.  Tentu selain otak yang encer – Iwan adalah lulusan terbaik MIPA IPB 1997- kerja kerasnya saat di Nielsen dan Danareksa Jakarta, dan yang lebih penting lagi, dukungan do’a dan cinta seluruh keluarganya di Batu, membuatnya pantas meraih  karir cemerlang di kota dunia seperti New York.

Dan kalaupun kemudian ia piawai, serta mampu menuliskan perjalanan hidupnya dengan bahasa yang sederhana dan nyaman dibaca. Itu juga yang menjadi kelebihannya yang lain. Ia pun menambah daftar para penulis cum motivator yang menuliskan pengalaman mereka menuju keberhasilan dalam kehidupan, melalui pendidikan setelah (Andrea) Hirata, dan (Ahmad) Fuadi. Ia pun turut memberi nuansa dalam khasanah bacaan (baca: sastra) inspiratif Indonesia di era kekinian.

Alhasil, Rak buku saya pun kini bertambah koleksinya. Setelah Para Priyayi, Jalan Menikung, Sri Sumarah, Orang-orang Bloomington, Asmaraloka, Negeri Senja, Tirani dan Benteng, Ronggeng Dukuh Paruk, Wasripin dan Satinah, Khotbah di Atas Bukit, Impian Amerika, kini ada 9 Summers 10 Autumns.

Oke Wan, sekarang kamu telah menjadi salah satu penulis favorit saya. Bukumu kini bersanding bersama mereka.

Proud of You.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: