myudiman

Empat Tahun Disusun Berawal dari Hobi Mencicipi Makanan

In Wisata Kuliner on Mei 23, 2010 at 11:30 am

Link Asli : http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&view=category&layout=blog&id=29&Itemid=181&limitstart=180

Dibalik Buku Tasik Funtastic Kuliner

Buku Tasik Funtastic Kuliner, belum banyak dikenal masyarakat Kota Tasikmalaya. Namun buku yang ditulis Maulana Yudiman, ternyata sudah banyak dibaca orang-orang dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surbaya, bahkan sampai dikirim ke luar negeri.

Tina Agustina, Letnan Harun

BUKU Tasik Funtastic Kuliner membahas berbagai aneka makanan yang ada di Kota Tasikmalaya. Untuk menyusun buku ini ternyata tidak sebentar. Maulana Yudiman yang kerap disapa Yudi ini, mulai berkeliling mencicipi setiap jajanan yang ditemukan di sekitar Kota Tasikmalaya. Untuk berkeliling ke setiap sudut kota ini, ia memulainya sejak tahun 2006 lalu.

Maulana sendiri adalah putra Tasikmalaya. Jadi dia tak terlalu repot untuk menelusuri lolong-lorong kota, sekadar untuk mencicipi makanan yang ada di kota ini. Jenis makanan yang dibukukan tidak hanya yang dijual dari restoran mewah. Namun yang dikelola para UKM Kota Tasikmalaya.

“Yang saya tahu ketika kecil, Kota Tasikmalaya dikenal dengan kota seribu bukit. Mungkin julukan itu bisa berubah. Kayanya kuliner khususnya bakso, bisa saja kota ini sebagai kota seribu bakso,” ungkap Yudi ketika memperkenalkan bukunya di Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Tasikmalaya belum lama ini. Itulah yang mendorong dirinya menulis buku Tasik Funtastic Kuliner.

Tidak hanya terkenal dengan baksonya, kekayaan kuliner Kota Tasikmalaya bisa terlihat dari banyaknya aneka jajanan. Mulai dari aneka mie, bubur ayam, nasi tutug oncom, tahu kupat, sate, soto, rujak dan lotek. Rumah makan dan warung nasi pun begitu berjejer di setiap pelosok Kota Tasikmalaya.

Bagi Yudi, aneka makanan ini sebetulnya bisa menjadi potensi yang begitu besar bagi Kota Tasikmalaya. Bahkan dari pengamatannya, bisa mendatangkan banyak orang, meskipun sekadar untuk mencicipi makanan khas Kota Tasikmalaya. “Apalagi nasi tutug oncom, sebetulnya itu adalah makanan yang betul-betul khas Kota Tasikmalaya. Di beberapa kota yang saya datangi, kalau makan nasi tutug oncom, pasti selalu membawa identitas Kota Tasikmalaya,” tandasnya.

Buku yang dibuat Yudi, memang belum bisa dimiliki warga Kota Tasikmalaya. Tapi baru bisa dinikmati melalui situs jejaring sosial seperti facebook atau jaringan pertemanan lainnya. Sehingga buku ini sudah dikenal untuk dijadikan tujuan wisata kuliner. Pembacanya orang-orang dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan sampai luar negeri. “Melalui buku yang saya tulis ini, saya bisa memperkenalkan kota kelahiran saya, yang ternyata memiliki potensi besar di bidang kuliner, ” paparnya.

Buku setebal 72 halaman ini sempat ditolak oleh perusahaan percetakan besar. Dengan alasan skup Kota Tasikmalaya yang dianggap terlalu kecil. Namun dia tak patah arang. Sekalipun buku tersebut dianggap tidak begitu memiliki nilai jual. (*)

  1. keren kang, jadi inspirasi buat saya…..
    hatur nuhun…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: