myudiman

Sandal

In Tidak terkategori on Desember 15, 2007 at 5:55 am

Saya selalu menyukai sandal swallow. sendal karet yang alasnya umumnya berwarna putih, dengan karet penjepit dengan beragam warna ; biru, hijau, kuning, oranye, dlsb.

Saya menyukai sandal swallow karena kepraktisannya. nyaman dipakai dan sederhana. Tidak seperti sandal dari bahan lain seperti kulit atau campuran karet sintetis, sandal swallow terbuat dari latek yang empuk. Di Tasikmalaya, ada toko yang menjual sandal kulit dan karet, yang selalu jadi langganan almarhum kakek saya. Toko Slamet dan T. Toha namanya. Sandal yang dijual umumnya jenis bestong, atau tarumpah.

Kembali ke sanalda swallow, Ada beberapa merek sandal swallow. Sandal swallow yang asli mereknya ya Swallow ini, dengan logo burung  gereja atau kapinis dalam bahasa sunda. Dulu sempat ada merek swallow yang katanya asli ; Skylark. Tapi merek itu sudah tak terdengar lagi. Ada juga varian sandal swalow yang  alasnya dilapisi karet sintetis licin. Mereknya ; Daimatu. saat ini, merek  Daimatu juga nampaknya sudah almarhum. Yang terus hidup dan tersedia sampai sekarang ya, Swallow ini.

Harga sepasang sandal Swallow relatif murah Rp 6.000,-. Swallow bisa didapat di toko, warung-warung, hingga di pasar modern seperti Carrefour atau Hypermart. Saya seringnya membeli swallow di toserba Yogya. alasannya, selain variasi warnanya banyak (meski tak menjadi referensi saya), yang lebih penting di toserba yogya selalu tersedia nomor 11. Nomor besar seperti ukuran kaki saya.

Berbeda dengan saya yang sangat menggemari swallow, istri dan hampir seluruh keluarga besar saya, selalu memandang sebelah mata saja pada sandal ini. “Ketidaksukaan” mereka pada swallow, lebih karena saya selalu memakainnya, bahkan pada saat-saat yang menurut anggapan mereka “resmi”. Ini karena saya hampir selalu membawa Swallow kemanapun saya pergi.

Sewaktu bertugas ke Sanghai, dan Tokyo tahun 2002 dan 2003 saya membawa sepasang swallow, yang ternyata memang bermanfaat karena bisa saya gunakan saat jalan-jalan pagi. Kalau kemudian ikut acara resmi sih saya pakai sepatu. Tapi saya pernah kena batunya juga. Saat masuk ke sebuah restoran di Hotel Shangrila Pudong, saya ditolak masuk karena sandal swallow yang saya gunakan. Si penjaga restoran (perempuan) menunjuk ke sandal saya, dan dengan bahasa isyarat meminta saya mengganti sandal dengan sepatu.

Tidak bisa disalahkan juga sih, kadang-kadang saya memang suka bandel. Bahkan saat pulang dari tugas ke Singapura tahun 2001, saya membeli sandal. bukan untuk oleh-oleh melainkan untuk saya pakai sendiri. cuma waktu itu bukan swallow yang saya beli melainkan sandai merek hawainas dari toko Bata di Suntec City.

Waktu masih bekerja di Jakarta, swallow telah menjadi bagian dari aktifitas kerja saya. Sesampainya di kantor, sepatu langsung saya buka dan saya ganti swallow. Dengan demikian, selama di ruangan kerja saya berswallow ria kemana-mana. Bahkan saat rappat sekalipun. Kebetulan karena memang, kebijakan persandalan di kantor relatif longgar. Artinya,  bukan cuma saya saja yang begitu, banyak rekan kerja dan atasan juga menggunakan sandal dalam keseharian di kantor. Ini juga berlaku saat istirahat makan siang. Praktisnya ya pakai sandal.

Herannya, saat itu, begitu banyak yang berminat dengan sandal swallow saya. Entah sudah berapa kali, tak terhitung banyaknya saya membeli sandal swallow, karena punya saya dipinjam (dan tak kembali), dipakai, hingga dicuri orang. Bahkan saking kesalnya, saya pernah bikin puisi tentang ini. Lengkapnya pusi saya tentang sandal adalah demikian :

Kepada Yth. Pencuri Sandal

Pencuri sandal yth.
Semula, saya tidak pernah menganggap anda pencuri
Ketika saya mangkel karena sandal saya tak ada
Saya berfikir seorang teman meminjamnya
Namun lupa mengembalikan
Saya pun lalu berbaik sangka
Itupun setelah seorang teman memberi saya nasihat :
“Jangan dulu berburuk sangka, tak baik lah,
mungkin saja sandalmu dipinjam tapi tak kembali karena lupa,” 
Lumrah saja kan? Namanya juga manusia.

Pencuri sandal yth.
Lantas entah untuk kesekian kalinya,
Saya membeli sandal baru hanya karena Anda
Sandal lama saya yang sebetulnya baru
Juga hilang karena Anda.
Karena masih berbaik sangka
Pada Anda tidak ada amarah Saya

Karena tak kembali
Saya mengalah saja.
Ke pasar Tomas pergilah Saya
Mencari pengganti sandal hilang tak tau rimbanya
Empat ribu limaratus rupiah harganya
Untung, masih ada uang lima ribu di dompet saya

Pencuri Sandal Yth
Saya tak tahu apakah Anda hendak mempermainkan saya
Sandal baru saya dengan cepat berganti rupa
Menjadi buruk tak enak dipandang dan tak nyaman dirasa
Entahlah, kok mau-maunya saya memakainya
Ini semua karena saya masih sabar sama Anda

Akhirnya tumpah ruahlah kemarahan saya
Pasalnya, sandal buruk rupa itu pun akhirnya Anda embat juga
Sedangkan ini Jumat saya harus ke mushala
Waduh, celaka dua belas saya
Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.

Pencuri Sandal Yth
Jika Anda membaca surat ini
Saya hanya ingin Anda tahu
Saya sayang banget sama Anda
Tapi lain kali, jika Anda mau mencuri lagi
Tolong bilang-bilang ya.

Jakarta, Agustus 2003

Hehe, sampai sebegitunya, ya? Tapi memang demikianlah kenyataannya sodara. Sandal swallow saya, jangankan yang masih baru dan bau toko, yang buruk rupa pun, masih saja jadi incaran. Itulah hal yang menginspirasi saya hingga puisi ini lahir.

Tapi rupanya, kecintaan saya pada sandal swallow tidak menurun pada anak-anak saya. Si sulung Shakila, senang sandal yang ada hiasan candy-candy di pinggirnya. Sementara si bungsu Sayuki sudah senang pada sandal kulit. Jadinya, mungkin hanya saya generasi terakhir di keluarga yang akan jadi pengguna sandal swallow. entah sampai kapan.

senin subuh, 11 desember 07

  1. inilah indonesia skylark dulu emang yg asli, ngalah ganti nama gara-gara telat daftar paten spt nissin biscuit, pierre cardin, dlsb, hehehe bat

  2. aku juga peminat sandal swallow emangya enak dipakei =D

    Arief Halim,
    Kuala Lumpur, Malaysia

  3. gw lg cari sandal daimatu type BOWLING mw order kira2 gimana cara & berapa hrg/pcs

  4. wah.. puisinya bagus mas.😀
    natural sekali nampaknya menumpahkan isi hati..

    • Hehe, puisi ini lahir dari rasa kesal yang teramat dalam, karena penggunaan barang milik pribadi secara tidak syah oleh orang lain. Biasanya, karya yang lahir dari rasa kesal memang bagus😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: