myudiman

Perfect Leisure di Inaya Putri Nusa Dua Bali

In Jalan-jalan on November 16, 2016 at 11:04 pm

Pulau Bali, telah lama dikenal sebagai destinasi wisata terkemuka tak hanya untuk wisatawan domestik, juga mancanegara. Pulau Dewata ini, sepertinya tak pernah kehabisan ragam pesona wisata yang senantiasa menarik untuk dieksplorasi. Tentu saja, pesona wisata yang ditawarkan Bali bukan sekedar keindahan pantai-pantainya yang membentang di sepanjang pulau. Keragaman eksotisme budaya, dan sajian kulinernya selalu memikat siapapun yang berkunjung ke sana.

Selama beberapa kali ke Bali, saya telah mengunjungi beberapa kawasan. Sebut saja, Kuta, Seminyak, Jimbaran, Ubud, Kintamani. Namun, dari sekian banyak tempat itu. Ada suatu kawasan yang saya masih dalam wish list saya. Tempat itu adalah Nusa Dua. Sebuah enklave resor besar internasional berbintang lima di tenggara Bali. Terletak 40 kilometer dari Denpasar, ibukota provinsi Bali. Kawasan Nusa Dua menjadi salah satu pusat industri MICE di Bali. Beberapa konfrensi internasional setingkat APEC, maupun yang diselenggarakan oleh PBB serta konfrensi internasional lain, diselenggarakan di kawasan ini. Terakhir, Sidang umum Interpol juga berlangsung di Nusa Dua, pada 7-10 Nopember 2016.

Oleh karena itu, ketika menerima undangan untuk merasakan sendiri kenyamanan dan kemewahan untuk tinggal di kawasan Nusa Dua, bersama tiga blogger asal Jakarta, ini seperti pepatah pucuk dicinta ulam tiba. Pada Minggu, 13 Nopember 2016 saya pun berkesempatan menikmati salah satu keindahan kawasan Nusa Dua di Hotel Inaya Putri yang baru diresmikan oleh Menteri BUMN Rini Suwandi, dua hari sebelumnya.

Berada di kawasan Nusa Dua yang eksklusif, keramahtamahan ala Bali sudah terasa sejak memasuki area masuk INAYA Putri Nusa Dua. Resor nyaman dan berkelas ini sungguh tepat menjadi sarana menginap untuk sesaat “melarikan diri” sejenak dari keriuhan kota dan aktifitas kerja yang padat, dan menikmati pelayanan yang sempurna dan pengalaman terbaik khas Bali yang ditawarkan Inaya Putri Nusa Dua Bali.

20161113041113_img_2938

Area lobby

Ekslusifitas Hotel Inaya Putri Nusa Dua, sudah bisa dirasakan saat kita turun dari kendaraan. Para tamu akan memasuki kawasan lobby hotel dengan arsitektur yang megah, berbalut paduan material kayu yang mendominasi, menyambut tamu dengan nuansa eksotis. Ruangan lobby yang terbuka di semua membebaskan pandangan kita untuk melihat seluruh area resort, sejak dari kolam renang, kamar, restoran hingga kawasan pantai yang luas di sisi belakang.

20161113053343_img_2970

View ke lobby hotel dari sisi pantai

Saya kemudian mendapat informasi, ternyata lobi utama Hotel Inaya Putri Nusa Dua ini, ini didesain oleh arsitek terkemuka Indonesia yang sekarang menjabat Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil alias Kang Emil. Pantes saja, Sebelum menjabat sebagai Wali Kota Bandung, Kang Emil dengan firma arsitek Urbane yang didirikannya telah banyak dikenal telah mendesain beberapa gedung dan bangunan keren, tak hanya di Indonesia, juga di beberapa negara di Asia dan Timur Tengah.

Kembali ke lobby hotel, desainnya memang unik, dengan mengadopsi bentuk lumbung padi yang umumnya tersedia dalam kehidupan pedesaaan yang dalam Bahasa Bali dinamakan Jineng. Detail atap desain cukup tinggi dengan tonggak-tonggak pendukung yang mencitrakan nilai-nilai dan filosofi tradisional serta merefleksikan pentingnya peranan lumbung padi bagi masyarakat tradisional, khususnya di Bali, karena lumbung merupakan bagian penting dari kehidupan mereka.

Begitu urusan chek in di meja resepsionis beres, saya pun diantar menggunakan boogey car berkapasitas empat orang ke area resor, melalui sebuah jalan yang kaya akan sentuhan nafas dan kehidupan Bali. Kawasan ini disebut area Penglipuran. Ingatan saya langsung kembali ke Desa Penglipuran, sebuah desa wisata yang terletak di kawasan Kintamani dan Gunung Batur, yang saya kunjungi sehari sebelumnya.

20161113052956_img_2962

Area Penglipuran

Di area penglipuran ini terdapat tujuh bangunan yang memiliki nama berdasarkan Tujuh Dewi yang menjadi Jiwa INAYA Putri Bali. Ketujuh dewi yang dilambangkan pada tujuh bangunan puri tersebut adalah Rukmini (Dewi Kecantikan), Saraswati (Dewi Pengetahuan, Seni Spiritualis dan Musik), Sri Laksmi (Dewi Kemakmuran), Dewi Sri (Dewi Kesuburan), Parwati (Dewi Alam Semesta), Uma (Dewi Tanpa Batas), dan Sinta (Dewi Cinta dan Kemurnian). Saya kebetulan mendapatkan sebuah kamar deluxe di area Saraswati, dengan akses ke kolam renang pribadi di bagian depannya.

20161113043802_img_2953

Kamar deluxe dengan dua tempat tidur

Tentu, Hotel Inaya Putri Nusa Dua tentu saja tak hanya mementingkan detail yang berkesan etnik. Resor ekslusif ini tetap mengedepankan faktor kenyamanan bagi para tamunya. Resor ini memiliki total 460 kamar, setiap fasilitas kamar yang tersedia di INAYA Putri Bali terdiri dari beberapa pilihan kamar dan suite yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan para tamu. Diantaranya, Deluxe Room, Deluxe Pool Access, One Bedroom Suite, One Bedroom Suite Oceanview dan Two Bedroom Suite. Privasi juga ditawarkan dalam konsep berkelas internasional di deretan The Village, area vila dengan dua tipe yakni One Bedroom Villa dan Two Bedrooms Villa.

20161113044613_img_2958

Kolam renang pribadi di depan kamar

Tak hanya kenyamanan yang ditawarkan Inaya Putri Nusa Dua, melalui beragam pilihan kamar sebagai tempat menginap, plus desain arsitektur dengan tema Bali yang sangat kuat. Resor menawan ini juga menyajikan layanan Food & Beverages yang pastinya akan membuat pengalaman menginap tamu semakin berkesan. Tersedia beberapa restoran yang menawarkan aneka pilihan rasa dan konsep.

Karena datang ke Inaya Putri Nusa Dua saat sore hari, saya berkesempatan untuk menikmati makan malam di Restoran Homaya yang menyajikan masakan tradisional Indonesia. Restoran Homaya sendiri, buka sejak pukul 17.30 hingga pukul 23.00. Menu yang ditawarkan, bervariasi sejak ayam, dan ikan bakar, sate, rendang, nasi goreng, gado-gado, perkedel, hingga babi kecap dengan tiga pilihan nasi; nasi putih, nasi kuning, dan nasi merah. Saya memilih ikan kakap bakar bumbu Parape, dengan makanan pembuka berupa palai udang (Makassar), dan ayam pelalah yang merupakan makanan khas bali.

Makan malam sambil dihibur band lokal

Makanan pembukanya sungguh sangat menggoda. Palai udang, adalah pepes udang kecil (ebi) yang disajikan dengan serundeng kelapa, dilengkapi daun kemanggi serta dibungkus daun pisang. Sementara ayam pelalah, adalah ayam suwir yang disajikan manis, dilengkapi sambal tomat, kacang panjang dipadu kesegaran jeruk lemon Bali. Kelezatan kedua makanan pembuka ini, semakin menambah rasa penasaran kami dalam menyantap hidangan utama. Ikan bakar Parape. Untuk pilihan nasinya, saya memilih nasi kuning. Ternyata, makanan utamanya cukup terpujikan. Ikan bakarnya dibakar dengan kematangan mendekati sempurna, dengan taburan cabe rawit hangat diatas ikan yang dibakar. Rasa nasi kuningnya ternyata plain alias tidak diberi tambahan rasa asin, seperti umumnya nasi kuning yang kita makan saat sarapan. Ini cocok karena ikan bakarnya sudah sangat gurih dan kaya akan rasa. Kesempurnaan acara makan malam semakin lengkap dengan hiburan band lokal yang membawakan lagu  Stand By Me dan Cottonfield.

Selain itu, masih ada Ja’Jan Bistro yang berada tepat satu level di bawah area lobby menjadi tempat yang pas bagi siapapun untuk menikmati suasana santai dan kasual. Di sini tamu dapat menikmati menu-menu pilihan seperti aneka snacks, light meals, signature blended tea yang seluruhnya tepat untuk dinikmati di waktu santai.

Selain Restoran Homaya dan Ja’Jan Bistro, sajian kuliner Hotel Inaya Putri juga bisa diperoleh di Gading Restaurant yang menjadi restoran utama hotel ini, dan menjadi lokasi yang sangat tepat untuk menikmati matahari pagi dengan beragam jamuan terbaik untuk para tamu. Ruang makan di Gading restoran didesain terbuka dan menyatu dengan alam sekitar, menjadikan restoran dengan kapasitas 250 tempat duduk ini lokasi yang tepat untuk memulai aktifitas di pagi hari dengan sarapan sembari menikmati pemandangan laut yang memesona.

20161113053259_img_2968

Kolam renang besar di depan Resto Homaya

Setelah menikmati makan malam di Homaya, saya beserta dua blogger dari Jakarta Evi Puspa dan Ventura Elisawati, janjian untuk berenang di kolam renang utama yang berlokasi di depan restoran. Kami menunggu selama sekitar 30 menit setelah makan, agar perut dapat mencerna sajian yang kami santap sebelum turun ke kolam renang. Ternyata berenang di bawah sinar rembulan Bali yang mendekati purnama adalah salah satu pengalaman yang paling memorable saat kunjungan ke Bali kali ini. Air kolamnya hangat, dan tak hanya kami, beberapa wisatawan asal Cina juga turut bergabung bersama kami.

Demikianlah, kunjungan ke Bali kali ini menimbulkan kesan khusus. Ini karena saat berada di INAYA Putri Bali Nusa Dua, saya tidak hanya menikmati perfect leisure tetapi Bali seutuhnya, karena setiap aspek di INAYA Putri Bali mencerminkan keramahan dan kemegahan tradisi Bali, sehingga mengunjungi INAYA Putri Bali tidak hanya sekedar berlibur atau bersantai, juga sejumput kenangan yang akan tetap tinggal dalam ingatan. (*)

 

 

INAYA Putri Bali

Kawasan Wisata Nusa Dua Lot S-3 Bali – Indonesia

Phone: +62 361 774 488

http://www.inayahotels.com

Pelayanan Paripurna ala Best Western Resort Kuta dan Best Western Kuta Beach Bali

In Jalan-jalan on November 16, 2016 at 10:05 am

Saya selalu senang jika meninap di hotel yang sebelumnya pernah saya kunjungi. Sederhana saja alasannya. Minimal pelayanannya tidak akan berbeda. Demikian pula dengan hotel berjaringan (chain hotel). Umumnya, hotel jenis ini menawarkan pelayanan yang relatif sama kepada para tamu yang menginap dari hotel satu ke hotel yang lainnya.

Jpeg

Best Western Resort Kuta

Itu pula yang terjadi ketika akhirnya saya tahu bahwa kami, rombongan peserta reuni SWA Alumniah (Alumni Majalah SWA), yang pelesiran di Bali akan menginap di Hotel Best Western. Ini seperti pucuk dicinta ulam tiba. Saya setidaknya pernah merasakan kenyamanan Hotel Best Western di dua tempat. Pertama, Best Western Plus Kemayoran, dan Best Western Premier La Grande Bandung, sehingga cukup mengenal keramahan dan standar tinggi dalam pelayanan yang dihadirkan jaringan hotel ini.

Best Western Hotel adalah jaringan hotel asal Amerika Serikat dengan kantor pusat di Phoenix, Arizona Amerika Serikat, yang juga telah mengelola beberapa hotel di Indonesia. Berdasarkan informasi dari wikipedia, Best Western Inc. adalah operator hotel berskala internasional yang telah mengoperasikan 4.100 jaringan hotel di seluruh dunia, dengan 2.163 diantaranya berada di Amerika Serikat. Pada tahun 2002, jaringan hotel yang didirikan oleh yang didirikan pada  tahun 1946 oleh M.K Geurtin ini meluncurkan Best Western Premier untuk kawasan Eropa dan Asia.

Pada tahun 2011, seluruh jaringan hotel Best Western membagi  hotel yang mereka kelola  menjadi tiga tipe, Best Western Core, Best Western Plus, dan Best Western Premier. Peluncuran Best Wester Premier di negara-negara Asia menunjukan potensi pasar premium untuk para pelancong yang menginap di jaringan hotel Best Western, cukup besar. Dari 12 hotel yang dikelola Best Western, tipe premier berlokasi di Bandung dan Solo.

Kesempatan untuk kembali menikmati standar tinggi pelayanan jaringan hotel Best Western, akhirnya berlangsung pada Jumat – Minggu, 11 – 12 Nopember 2016.  Saat itu, kami bersepuluh orang berkesempatan menginap di Best Western Resort Kuta yang berlokasi di Jl. Kubu Anyar I no 118 Kuta Bali.

Meski berlokasi di kawasan yang padat, namun aura Bali begitu sangat terasa saat pertama kali menginjakan kaki di hotel ini. Sebuah  patung Syiwa dengan sesajen di bawahnya menyambut kami di pintu masuk yang langsung mengarah ke pendopo yang difungsikan sebagai resepsionis. Sebuah aula terbuka dengan pohon beringin besar yang rimbun dan menjuntai akarnya menjadi perantara antara ruang resepsionis dengan kamar-kamar hotel.

 

Jpeg

View dari kamar

Kamar yang saya tempati berada di lantai dua yang diakses melalui lift, dengan pandangan langsung ke kolam renang. Kamar Deluxe dengan dua tempat tidur, layanan TV kabel, kamar mandi yang dilengkapi shower air panas dan dingin, minibar dan tentu saja satu set meja. Karena tiba di Bali sore hari, saya hanya sempat beristirahat sebentar, untuk mandi dan sholat. Saya tidak bisa berlama-lama karena ditunggu makan malam bersama jajaran manajemen Best Western Hotel.

Saat makan malam bersama jajaran pengelola Hotel Best Western di restoran Hotel Best Western Resort Kuta, kami merasakan betul arti standar pelayanan tinggi yang diberikan oleh pengelola Best Western Resor Kuta. Minuman sari jeruk limau yang disiapkan sebagai minuman selamat datang, menjadi pengantar untuk sajian menu berikutnya. Salah satu sajian kuliner khas yang kami cicipi malam itu adalah Nasi Ubi. Nasi hangat dipadu ubi kukus yang dipotong kecil seukuran dadu. Sebagai pelengkap, sambel goreng tempe dengan teri, dan sate lilit menjadi menu pendamping.

20161111073035_img_2671

Suasana romantis di tepi kolam renang

Akan halnya menu utama makan malamnya, adalah sesuatu yang tidak boleh dilewatkan. Sajian grill dan barbeque udang, ayam, sapi, cumi, dan jagung yang sebelumnya telah dilamuri bumbu khas Bali, kami cicipi satu persatu, diselingi dengan mencicipi sushi, puding dan buah-buahan.

20161111091902_img_2709

Yuni Wuryanti, Director Sales and Marketing Best Western Resort Kuta

Dalam kesempatan ngobrol-ngobrol dengan Director of Sales & Marketing Best Western Resort Kuta, Yuni Wuryanti, Best Western Resort Kuta merupakan Hotel Best Western pertama di Bali dan telah hadir sejak tahun 2009. Disusul Best Western Kuta Vila, Best Western Kuta Beach, dan Best terakhir Best Western Premier Agung Resort Ubud.

Saat ini, dijelaskan Yuni, Best Western Resort Kuta memiliki 111 kamar,  superiror, deluxe, super deluxe, dan satu suite, dengan tingkat okupansi di angka 40-50 % dengan permintaan yang cukup bagus. Yuni mengakui, karena populasi hotel yang semakin banyak di Bali, maka tingkat persaingan dengan memberikan harga yang murah sebagai salah satu senjata yang digunakan oleh hotel-hotel dalam menjaring wisatawan, menjadi cukup tinggi.

20161111072830_img_2662Namun, Yuni merasa beruntung karena hotelnya merupakan jaringan Best Western Internasional, maka kebanyakan tamu yang berkunjung  adalah yang sebelumnya telah mengenal pelayanan yang diberikan oleh Best Western. Wisatawan yang menginap di Best Western Resort Kuta terbanyak adalah wisatawan India, disusul Australia, China dan Jepang. Kemeriahan acara makan malam kemudian ditutup dengan tanya jawab bersama seluruh jajaran pengelola Best Western dan foto bersama.

Esoknya, Sabtu, 12 September 2016 pagi-pagi sekali kami langsung mengepak tas dan koper, yang nantinya akan langsung di kirim ke Hotel Best Western Kuta Beach di Jl, Benesari, kawasan pantai Kuta. Pada hari itu, kami mengunjungi Desa Wisata Penglipuran di Kawasan Kintamani, menengok proses pembuatan wine di Sababay Winery, makan siang di RM Tebasari, serta mengunjungi Kupi Pulina di kawasan Ubud.

Usai menikmati berbagai pesona wisata Bali ini, kami kemudian menuju Hotel Best Western Kuta Beach untuk beristirahat, sebelum berlanjut pada program berikutya, makan malam di Nyoman Café di kawasan Pantai Jimbaran. Di Best Western Kuta Beach, kami disambut Pak Yazid Sidik, Director Sales & Marketing Best Western Kuta Beach. Pak Yazid ternyata telah menyiapkan kejutan buat kami. Di Kamar hotel yang kami tempati, selain handuk yang digulung menyerupai binatang-binatang lucu, kain pantai, dan sebuah mug dengan foto dan nama kami masing. So sweet. Terimakasih untuk keramahan Anda, Pak Yazid.

20161112195805_img_2870

Yoga di rooftop Hotel Best Western Kuta Beach

Keesokan paginya, kami  pun ditunggu untuk bersama-sama mengikuti kelas privat yoga, di rooftop Hotel Best Western Kuta. Yoga selama sekitar satu jam, cukup membuat kami berkeringat, dan mampu melemaskan otot-otot yang tegang, setelah aktifitas kami yang padat sehari sebelumnya. Alhasil sarapan di rooftop hotel pun menjadi pelampiasan kami, setelah puas berolahraga.

Keramahan yang diberikan jajaran Best Western Kuta Beach tak berhenti sampai disini. Kami pun diantar untuk mengunjungi Dream Museum Zone (DMZ) di Jl. Nakula kawasan Legian Kuta, untuk memuaskan dahaga narsis kami berswafoto alias selfie. Setelah itu, kami pun makan siang bersama di Restoran Nook, di Umalas, sebuah tempat yang sedang menjadi pembicangan banyak orang, yang berkunjung ke Bali.

20161112202002_img_2877

Menu sarapan

Sepertinya, Best Western Resort Kuta dan Best Western Kuta Beach, akan selalu menjadi pilihan untuk menginap saat berlibur di pulau dewata ini. (*)

 

 

 

 

 

Relawan Ridwan Kamil, Mau Kemana?

In Tidak terkategori on Juli 22, 2013 at 9:37 pm

Setelah sukses mengantarkan Kang Ridwan Kamil (RK) dan pasangannya Mang Oded M. Danial ke kursi Walikota dan Wakil Walikota Bandung, beberapa waktu terakhir, muncul beragam diskusi di simpul-simpul relawan RK, tentang bagaimana peran para relawan, dan apa yang harus dikerjakan para relawan setelah terpilihnya RK sebagai Walikota.

Peran relawan RK memang tak bisa dipungkiri sangat besar dalam mendorong RK ke kursi Bandung Satu. Tentu, harus juga disebut peran para kader partai pengusung PKS dan Gerindra dan berbagai kelompok pendukung lainnya. Namun peran relawan RK yang berkumpul dalam simpul-simpul di berbagai titik di kota Bandung, relawan kreatif di bidang desain, sosial media, event, dan yang bekerja mengetuk pintu rumah-rumah warga di masa kampanye, memang tak bisa diabaikan.

Peran dan dukungan para relawan sepertinya berakhir ketika RK dan OMD dinyatakan memenangkan pilkada oleh KPUD kota Bandung pada jumat 28 Juni 2013  lalu. Dengan begitu, selesai juga tugas para relawan. This is the end of service. Selesai.

Tapi benarkah begitu? Patut disayangkan jika peran relawan berhenti sampai disini. Hanya “mengantar ke gerbang”. Seperti peran Bu Inggit Garnasih mengantar Bung Karno ke gerbang kemerdekaan, dalam novel yang ditulis penulis biografi Ramadhan KH.  Seperti itukah?

Peran relawan memang telah selesai pada satu tahapan. Tahapan itu adalah memenangkan Ridwan Kamil sebagai walikota. Namun, alih-alih telah berakhir, tugas dan peran relawan RK sejatinya baru saja dimulai.

rk2

Peran dan tugas baru itu serupa saja. Ketika saat kampanye para relawan membantu memperkenalkan dan meyakinkan warga kota Bandung, bahwa RK adalah pilihan tepat dan solusi untuk bandung yang semrawut, maka tugasnya sekarang ini adalah membantu meyakinkan warga Bandung saat RK merealisasikan program-rogram dan janji kampanyenya.

Ada banyak hal bisa dilakukan. Ketika Walikota RK merencanakan membangun 1000 shelter sepeda, dan mengampanyekan Bandung kota sepeda, maka para relawan RK harus menjadi yang pertama mengandangkan mobil dan motornya dan menjadikan sepeda sebagai kendaraan untuk beraktifitas ke kampus, ke sekolah, ke pasar, ke rumah pacar, kemanapun tujuannnya.

Saat Kang RK merealisasikan gerakan sejuta biopori sebagai program untuk mengolah sampah sekaligus mencegah banjir, maka para relawan akan menjadi tukang kampanye dan pendemo biopori di lingkungan terdekatnya. Mengajak orang tua, teman, sahabat, pacar, calon mertua dan lingkungan terdekat untuk bersama-sama membuat biopori di halaman rumah, lingkungan sekolah, tempat ibadah, dan lokasi lainnya.

Ketika Pak Wali meluncurkan aplikasi Ngabandungan yang merupakan media pelaporan warga (citizen repoting), maka para relawan harus menjadi yang terdepan sebagai pengguna aplikasi ini. Menyebarkannya, mengedukasi teman, kerabat, dan keluarga untuk sama-sama melaporkan berbagai permasalahan kota yang ditemui.

Ketika mental dan perilaku warga kota Bandung, sudah demikian hancur karena adanya pembiaran terhadap berbagai pelanggaran yang dilakukan rezim walikota lama dalam berlalu lintas, dalam beretika hidup dan tinggal di kota, maka para relawan menjadi pionir yang memberi teladan disiplin berlalu lintas, tidak membuang sampah ke jalan dan ke sungai, dan menjadi teladan dalam pembangunan kota untuk diri dan lingkungannya.

Intinya, para relawan adalah representasi dan penjelmaan walikota Ridwan Kamil dalam memperjuangkan Bandung yang baru. Bandung yang dibangun dengan semangat kekompakan dan kolaborasi warga. Bandung yang dicintai dan dibanggakan, karena kota ini layak mendapatkannya. Semangat dan kekompakan warga inilah yang menjadi modal utama warga dan mengantar Kang Ridwan Kamil mendapat penghargaan kepemimpinan perkotaan dari Universitas Pensylvania AS.

Dengan begitu, karena sebagian tugasnya sudah dikerjakan oleh para relawan dan warga, Walikota RK dapat fokus pada hal-hal yang lebih strategis dan sesuai dengan pengalaman dan kompentensi yang dimilikinya. Perbaikan infrastruktur, perencanaan kota, peningkatan kesejahteraan warga, dan mengupayakan agar indeks kebahagiaan warga kota Bandung meningkat dengan signifikan. Menjadikan warga kota Bandung  masyarakat paling berbahagia sedunia.  Bukankah ini juga yang menjadi cita-cita kita bersama?

Bukan tanpa alasan, relawan RK datang dari kalangan muda, kelas menengah kota dan kreatif. Seperti RK yang juga yang berusia muda, perubahan memang sudah kodratnya harus datang dari kalangan muda. Bung Karno pernah berkata “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.”  Ujaran Bung Karno merupakan gambaran bagaimana kedahsyatan para pemuda sebagai agen perubahan. Tentu saja, pemuda yang dimaksud ialah mereka yang berpikiran positif, dan berprestasi.

Dengan begitu kebanggaan menjadi relawan RK, tidak sebatas saat mengantarkannya  ke kursi walikota, dan setelahnya menyimpan rasa bangga itu untuk diri kita sendiri. Kebanggaan yang harus dimiliki oleh para relawan adalah saat bersama-sama Walikota Ridwan Kamil turut membangun Bandung dengan harapan baru.

Lantas, bagaimana semangat relawan ini harus dikelola agar semangat dan kreatifitasnya menghasilkan karya positif. Perlukah para relawan dihimpun dalam sebuah organisasi, misalnya? Saya termasuk yang percaya, bahwa sebuah kerumunan yang berhimpun dalam sebuah organisasi, akan memiliki kekuatan yang dahsyat dalam menjalankan peran yang diembannya ketimbang yang dibiarkan cair dan tanpa ikatan. Sebuah forum komunikasi yang bertemu dalam kuantitas waktu tertentu mungkin dapat menjadi pilihan. Sisanya adalah bagaimana para relawan membuktikan dukungannya kepada walikota RK dalam bentuk karya dan kerja nyata.

rk3

Hanya saja, perlu diperhatikan oleh para relawan, bahwa sifat organisasi juga harus inklusif, terbuka, tanpa sekat, sederajat, semua berkontribusi secara aktif, tidak membebani tugas RK sebagai walikota, dan yang lebih penting fun dan menyenangkan. Pada awal kampanye relawan telah diingatkan bahwa Kang Ridwan Kamil menginginkan partisipasinya dalam pilwalkot ini berjalan dalam suasana kegembiraan dan keceriaan. Ia tak ingin proses politik yang diikutinya menjadi serius dan menegangkan. “Yang lain boleh serius dan tegang, kita mah fun dan happy aja” demikian Walikota RK mengingatkan para relawan dalam satu kesempatan.

Juga karena sejak saat ini, Kang Ridwan Kamil adalah milik warga kota Bandung. Tak hanya milik para relawan pendukungnya, atau 45% warga pemilih yang tercatat dalam hitungan KPUD, yang menjadikannya terpilih sebagai walikota. Kang Ridwan Kamil adalah juga milik warga kota yang tidak memilih. Baik untuk alasan karena mereka tak hadir di TPS atau kerena RK memang bukan pilihan mereka. Tapi, bukankah itulah esensi demokrasi yang sebenarnya. Penghormatan terhadap keberbedaan dan keberagaman?

Ketika dalam “1000 Kata Untuk Relawan”nya Kang Ridwan mengajak untuk membangun Bandung karena “kereta mimpi” itu sudah dekat. Pada akhirnya, kereta mimpi yang ditunggu-tunggu itu sudah tiba. Mari kita naiki gerbongnya bersama-sama, dan kita tempatkan Kang Ridwan Kamil duduk di kursi lokomotif, untuk membawa kita ke tujuan. Bandung kota Juara, di Indonesia.

Semoga.