<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Shakila and Syauki</title>
	<atom:link href="http://myudiman.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://myudiman.wordpress.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Sun, 11 Dec 2011 03:03:04 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='myudiman.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Shakila and Syauki</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://myudiman.wordpress.com/osd.xml" title="Shakila and Syauki" />
	<atom:link rel='hub' href='http://myudiman.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Alun-alunku Sayang Alun-alunku Malang</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2011/12/06/alun-alunku-sayang-alun-alunku-malang-2/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2011/12/06/alun-alunku-sayang-alun-alunku-malang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Dec 2011 11:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun]]></category>
		<category><![CDATA[Tasikmalaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Alun-alun kota Tasikmalaya suatu sore. Saya duduk-duduk sembari menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Semilir angin, dan semburat lembayung menyelinap diantara kerimbunan pepohonan besar yang sudah sejak lama tumbuh. Beberapa orang anak sekolah duduk-duduk di sudut. Sementara sepasang suami istri, memilih berjalan santai diiringi tawa riang sepasang putera-puteri mereka. Di pelataran monumen, beberapa orang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=97&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Alun-alun kota Tasikmalaya suatu sore. Saya duduk-duduk sembari menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Semilir angin, dan semburat lembayung menyelinap diantara kerimbunan pepohonan besar yang sudah sejak lama tumbuh. Beberapa orang anak sekolah duduk-duduk di sudut. Sementara sepasang suami istri, memilih berjalan santai diiringi tawa riang sepasang putera-puteri mereka.</p>
<p>Di pelataran monumen, beberapa orang tua asyik ngobrol melepas penat sesuai berolahraga ringan sore hari. Monumen alun-alun dihiasi patung perunggu sepasang pemuda dan pemudi mengibarkan pataka Parasamya Purna Karya Nugraha, sebuah penghargaan atas pencapaian keberhasilan pembangunan di era orde baru.</p>
<p>Monumen juga menyimpan berbagai prestasi yang dicapai kota Tasikmalaya dalam bentuk diorama. Prestasi pembangunan di bidang pertanian, pendidikan, kesehatan dan banyak lagi. Bangunan monumen terbuat dari susunan batu andesit berwarna abu kehitaman, yang meski sudah dimakan usia, namun masih gagah dan nyaman dipandang mata.</p>
<p>Oya, alun-alun kota juga dilengkapi beberapa kursi taman yang pada sore-sore seperti sekarang ini, banyak digunakan warga kota untuk tempat mereka menghabiskan hari. Kursi-kursi ini ditempatkan sedemikian rupa, di sela-sela lampu taman besar dengan dekorasi yang indah dan memberi terang saat siang berganti malam.</p>
<p>Rumput alun-alun dan aneka tanaman penghias tertata rapi, menandakan pengurusan yang teratur dan pengelolaan yang baik. Saya memanggil seorang penjaja minuman dan memesan sebotol minuman dingin.</p>
<p>Ah, sebuah pengalaman menikmati senja yang tak terlupakan.</p>
<p>Alun-alun kota Tasikmalaya sudah sejak lama ada. Sejauh ingatan saya, memori tentang alun-alun sudah muncul dalam ingatan sejak saya bersekolah di TK Pertiwi awal tahun 1980an. Lokasinya saat itu masih di dekat kantor Sturada (Studio Radio Daerah). Persis, di samping gedung pendopo Tasikmalaya.</p>
<p>Saat itu, tentu saya belum mengerti apa itu alun-alun. Maklum masih bocah. Selain itu, kebanyakan ingatan tentang alun-alun hanya saya peroleh dari foto-foto aktifitas yang menggambarkan alun-alun sebagai latar. Namun menginjak kelas 5 -6 SD (sekitar tahun 1984 – 1985), alun-alun memberi gambaran ingatan yang semakin jelas kepada saya.</p>
<p>Setiap bulan puasa tiba, alun-alun menjadi lokasi favorit menghabiskan waktu sepanjang asar hingga magrib. Ngabuburit, menunggu datangnya waktu berbuka. Saat ngabuburit itu, saya menghabiskannya dengan menyewakan komik dan buku-buku cerita yang menjadi koleksi saya. Diantaranya, cergam Deni Manusia Ikan, beberapa judul komik Tintin, cergam Trigan, Kisah Petualangan Arad dan Maya, beberapa edisi majalah Bobo, dan sekian judul buku Petulangan Trio Detektif dan Lima Sekawan. Tidak semua buku ini saya miliki, kadang-kadang saya berkongsi dengan beberapa kawan agar koleksi lapak penyewaan komik saya lebih banyak dan komplit dibanding pesaing.</p>
<p>Hasilnya? Namanya juga usaha. Kadang komik-komik saya laris disewa pembeli, kadang-kadang hanya sedikit yang mampir karena mereka sebelumnya sudah membaca dan melihatnya di tempat lain. Saat itu, biaya sewa dan membaca di tempat, murah meriah saja ; Rp 25,-/komik. Sebagai perbandingan, harga semangkuk baso masih Rp 300,- dan jika bisa membawa pulang Rp 300,- saja maka hari itu saya akan membawa beragam ta’jil ke rumah. Sejak cilok, gorengan, es orson, hingga kolek dan aneka penganan lain. Maka lengkaplah di meja makan, penganan berbuka saya sore itu, yang umumnya tidak pernah bisa saya habiskan karena keburu kekenyangan.</p>
<p>Beranjak SMP dan SMA, saya sudah tidak lagi menyewakan komik di alun-alun. Selain sudah tidak lagi menarik dari sisi bisnis, koleksi komik saya juga semakin berkurang. Lagi, alun-alun juga sudah tidak lagi menjadi <em>meeting point</em> dan lokasi tujuan ngabuburit favorit. Selain itu, karena bersekolah di SMPN 1 yang bertetangga dengan alun-alun, kegiatan mata pelajaran olahraga sesekali berlangsung di sana. Lagi pula, pergi dan pulang sekolah pasti memintas jalan lewat alun-alun. Lambat laun, pudar sudah pesona alun-alun di mata saya.</p>
<p>Hanya saja, saya masih tetap mau diajak kawan-kawan<em> sepor</em> alias lari pagi ke alun-alun setiap minggu pagi.<em> Sepor</em>-nya sih bukan yang utama. Seringnya saat lari pagi itu, kita bertemu teman-teman yang lain, dan lebih senang lagi jika ada teman perempuan yang ikut bergabung juga. Seronok, kalau kata Ipin dan Upin. Ah, indahnya masa remaja.</p>
<p>Selepas SMA, karena harus bersekolah di kota lain, saya pun meninggalkan Tasikmalaya tercinta. Sementara saya pun harus melupakan alun-alun kota. Setelah lulus kuliah, saya diterima bekerja di Ibukota, dan semakin terpisah dari kota Tasik dan alun-alunnya yang melegenda.</p>
<p>Beruntung, sore ini saya dapat menikmati senja di alun-alun kota tercinta ini. Mengenang masa lalu, mengurai ingatan indah masa kecil, menyesapi aroma rumputnya yang menghijau, keceriaan anak-anak yang bermain-main, senda gurau orang-orang tua.</p>
<p>Tiba-tiba seseorang mencolek saya.</p>
<p>“<em>Ieu angsulna Pa</em>,” (Ini uang kembaliannya, Pak), katanya.</p>
<p>Suara <em>mamang</em> penjaja minuman menyadarkan saya. Saya tergagap sebentar. Agak lama sebelum kesadaran saya kembali muncul. Saya terima uang kembalian minuman botol sembari mengucapkan terimakasih.</p>
<p><em>Alamaaak</em>, saya ternyata sedang melamun. Alun-alun kota yang indah tertata rapi, tempat anak-anak bermain, sarana olahraga orang-orang tua di sore hari dan ruang publik favorit warga ini ternyata cuma ilusi dan lamunan saya.</p>
<p>Yang nyata di hadapan, alun-alun kota yang tak terurus, rumputnya yang sudah jarang di sana-sini,<em> paving block</em> yang bolong-bolong dan bisa bikin celaka, lampu taman yang rusak, pagar pembatas yang catnya sudah memudar. Beberapa waktu lalu, patung di monumen bahkan sempat tak punya kepala. Syukurlah, sekarang ini kepala patung sudah kembali utuh.</p>
<p>Saya menghela nafas.</p>
<p>Saya pulang dengan lunglai.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/97/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/97/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=97&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2011/12/06/alun-alunku-sayang-alun-alunku-malang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>12</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bob McDougall : Partnering with Microsoft to build ‘ecosystem’</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2011/06/09/bob-mcdougall-partnering-with-microsoft-to-build-%e2%80%98ecosystem%e2%80%99/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2011/06/09/bob-mcdougall-partnering-with-microsoft-to-build-%e2%80%98ecosystem%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Jun 2011 00:26:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>
		<category><![CDATA[Bob McDougall]]></category>
		<category><![CDATA[Ecosystem]]></category>
		<category><![CDATA[Nokia]]></category>
		<category><![CDATA[Nokia Indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[There was a time when Nokia had achieved phenomenal success in its marketing in Indonesia. In the early 2000s the Finnish mobile phone manufacturer launched the 5110 series which was very popular here in Indonesia and was dubbed as the “Cell phone of One Million Users”. Another achievement was via its Communicator series which was [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=92&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>There was a time when Nokia had achieved phenomenal success in its marketing in Indonesia. In the early 2000s the Finnish mobile phone manufacturer launched the 5110 series which was very popular here in Indonesia and was dubbed as the “Cell phone of One Million Users”.</p>
<p>Another achievement was via its Communicator series which was mostly used by government officials and executives, raising the cell phone’s prestige. At that time Indonesia had the most users of Communicator in the world.</p>
<p>However, recently Nokia’s domination seems to be overshadowed by other brands. At the global level Nokia’s position has been taken over by Apple and the interest of consumers in major cities in this Canadian manufacturer with its smart phones and the onslaught of local mobile phones at the low end segment have also had an impact on Nokia’s domination. Or is that really the case?</p>
<p>Bob McDougall, Country Manager of Nokia Indonesia, denies such an assumption. “In the matter of market shares both in Indonesia and also in the world we are still number one for mobile phones as well as smartphones,” he asserted.</p>
<p>He added that the battle is no longer in the hardware but also in a wide range of supporting services and the use as well as the benefits of such services for the consumers. “In the past we used to have many types of cellulars because the only facilities available were voice and SMS but nowadays consumers always inquire whether Facebook and chatting facilities are available as well.” he emphasized.</p>
<p>In line with the changes in the marketing warfare McDougall explained that on Feb. 11, 2011 Nokia Global announced a new direction for its strategy that includes changes in leadership and operational structure in order to expedite the execution of various decisions within a dynamic and competitive environment.</p>
<p>One of the main elements in the latest strategy of Nokia Global is its strategic collaboration with leading software company Microsoft to develop a new ecosystem for a global mobile phone Windows Phone, which will function as a platform for Nokia’s smart phone.</p>
<p>Next Nokia is also developing new approaches in order to be connected with the Next Billion Consumers via the Internet in its efforts to boost market development. Lastly Nokia is also focusing on investments for the development of future technologies.</p>
<p>There are many logical reasons behind selecting Microsoft as a partner in the collaboration for the development of Nokia’s smart phones.</p>
<p>The partnership with Microsoft, explained McDougall, will make it possible for the creation of a more expansive “Ecosystem” in the future development of smart phones by involving many parties, namely the manufacturer, distributors, operators, applications makers as well as consumers.</p>
<p>Therefore Nokia and Microsoft are planning to provide a combined service portofolio that include applications for locations, searching, entertainment, social media, advertising and trade which will give a new experience to user through an integrated combination of the main service.</p>
<p>Although Nokia is entering into a collaboration with Microsoft for the development of Windows Phone, Nokia, said McDougall, will continue developing the Symbian operation system. “In many markets Symbian is our main platform and Nokia views this fact as an opportunity to grab a larger market share and more segments,” he said.</p>
<p>Nokia, according to McDougall, has not decided the delivery date of the latest Symbian products but will release more products and continue modernizing this platform based on the company’s extensive experience. “We believe Symbian will offer beneficial values for the operators, partners, developers and consumers in the coming years,” he said.</p>
<p>Nokia also sees that there are a lot of opportunities available to provide web and many other application based services to the “Next Billion Consumers” as there are 3.2 billion people in the world who still do not have mobile phones. Apart from that out of 3.7 billion users in the world there are 1.2 billion users who have mobile phones but only use the SMS service and are not yet connected to the web, so the remaining 2.5 billion are not connected to the web at all. About 75 percent of these 3 billion people live in countries with rapid economic growth such as Brazil, Russia, India, China and Indonesia.</p>
<p>McDougall emphasizes this fact as the biggest challenge. “How to make them connected and help remove the obstruction that stops users from getting the maximum advantage in this information era,” he added. He further said that Nokia is making innovations through the existing cell phones like the 40 and 30 series by expanding the data service including browser, applications and map.</p>
<p>He said that Nokia also has another superior application, Nokia Life Tools (NLT). After the company’s success with services in education, farming and entertainment Nokia has again launched a new feature included in Nokia Life Tools: a health service that provides tips on pregnancy, child care and general health and fitness topics. Nokia is working in collaboration with Parents Guide Indonesia magazine, Gama Techno and the Faculty of Medicine of Gadjah Mada University to provide the health feature in its NLT service. Currently in Indonesia two million users have accessed this NLT with most of them accessing the education service while the rest are accessing the information on farming and entertainment.</p>
<p>McDougall becomes very animated when he talks about the mobile phone industry perhaps because he has worked in the field for quite a long time. He joined Nokia in 2003 as Business Development Manager for Southeast Asia. Later he moved up to Business Development Manager for CDMA cellulars in India, Vietnam, Thailand and Indonesia.</p>
<p>In 2004 he led Nokia Thailand and in October 2007 he was appointed as Sales Director for Customer and Market Operations for Nokia India. The experience he obtained in these countries had him well prepared for his appointment as country director of Nokia Indonesia, a position he has held since March, 2009.</p>
<p>He admitted that there are basic differences in marketing Nokia in the three countries, India, Thailand and Indonesia. In India, McDougall said, the influence of Bollywood film industry and cricket are quite dominant, while in Thailand cell phones are inseparable from fashion and lifestyle. In Indonesia communities have a great impact on the way the product is marketed and developed.</p>
<p>This situation plays an important part in how Nokia communicates with its users in Indonesia. Promotional campaigns in the social media now get a large portion next to promotions via conventional media. Nokia has also opened a fun page of Nokia Indonesia in Facebook and is interactive with its followers on Twitter through its account @nokiaindonesia.</p>
<p>In matters of leadership and operations McDougall is glad that Nokia as a global company has values that can be adopted worldwide. In Indonesia one of the things McDougall has done is to lead the employees of Nokia Indonesia to become more responsible in a wide range of fields, not only in sales and marketing but also to foster trust and cooperation between one another.</p>
<p>This is what he has also implemented with the distributors of Nokia in Indonesia. “Every year we hold a mutual business planning meeting to decide our strategy and objectives,” he said. Every six months McDougall and the management staff of Nokia Indonesia evaluate these together with the distributors. “Hence this way we can set our target and focus on our planned strategy,” he explained.</p>
<p>“We must also continuously convince our distributors and our other partners to keep striving and focus on efforts to achieve the set target for intended results” concluded McDougall, who was born in Scotland but raised in Australia.</p>
<p>Background</p>
<p>Name: Bob McDougall<br />
Place and date of birth: Kilwinning, Scotland, 25 November 1961<br />
Experience:<br />
March 2009 – present: Country Manager Nokia Indonesia<br />
Oct 2007: Sales Director for Customer and Market Operations, Nokia India<br />
Oct 2004: Country Manager for Nokia Mobile Phones Thailand.<br />
April 2003: Business Development Manager of Nokia Mobile Phones, South East Asia.<br />
2002 – 2003: Sendo Mobile Phones Singapore<br />
1998 – 2002: General Manager Philips Consumer Communications, India<br />
1994 – 1998: National Channel Manager Optus Communications</p>
<p>http://www.thejakartapost.com/news/2011/06/04/bob-mcdougall-partnering-with-microsoft-build-%E2%80%98ecosystem%E2%80%99.html</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=92&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2011/06/09/bob-mcdougall-partnering-with-microsoft-to-build-%e2%80%98ecosystem%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>9 Summers 10 Autumns ; Catatan Kenangan di Sepenggal Jalan</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2011/04/01/9-summers-10-autumns-catatan-kenangan-di-sepenggal-jalan/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2011/04/01/9-summers-10-autumns-catatan-kenangan-di-sepenggal-jalan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Apr 2011 01:20:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tidak terkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=85</guid>
		<description><![CDATA[Membaca 9 Summers 10 Autumns, segera saja ingatan saya melayang ke cerpen Umar Kayam &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221;. Bukan pada Jean dan Marno, dua tokoh sentral cerpen itu, yang ngobrol tak tentu arah sambil berleha-leha di sofa, tapi pada beberapa lokasi yang disebut dalam cerpen. Manhattan yang berkelap kelip disinari ribuan lampu, layaknya kunang-kunang di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=85&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg"><img class="size-medium wp-image-88 alignleft" title="buku" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg?w=243&#038;h=268" alt="" width="243" height="268" /></a> Membaca 9 Summers 10 Autumns, segera saja ingatan saya melayang ke cerpen Umar Kayam &#8220;Seribu Kunang-kunang di Manhattan&#8221;. Bukan pada Jean dan Marno, dua tokoh sentral cerpen itu, yang ngobrol tak tentu arah sambil berleha-leha di sofa, tapi pada beberapa lokasi yang disebut dalam cerpen. Manhattan yang berkelap kelip disinari ribuan lampu, layaknya kunang-kunang di waktu malam, dan Cetral Zoo Park.</p>
<p>Pada novel,  9S10A, beberapa tempat di kota Big Apple ini juga cukup sering disebut. Wechester Ave, SoHo, Saks Fifth Ave atau lapangan Times Square, yang selalu jadi pusat aktifitas manusia New York di  malam tahun baru. Meski kemudian penulis juga bercerita tentang ruang tamu ukuran 2 x 4,5 m di sebuah rumah kecil di Batu, tempat kos di pinggir sungai ciliwung di Bogor, tempat kos lain di sebuah gang di Tanah Abang, Wisma Dharmala dan kawasan bisnis Sudirman di Jakarta, dan tempat-tempat lain yang pernah disinggahinya.</p>
<p>Begitulah cara Iwan Setyawan melukiskan memori masa kecil hingga kemudian ia &#8220;terdampar&#8221; dan menjadi pekerja sebuah perusahaan global di New York dalam jalinan cerita yang memukau, menggugah rasa, mengantarkan tawa, hingga membuat air mata berlinang di pelupuk. Ia juga bercerita tentang keluarganya, teman-teman, kolega di tempat kerja, anak kecil berseragam merah putih yang menjadi &#8220;teman curhat&#8221; hingga urusan percintaannya. Begitu menyentuh. Begitu filmis.</p>
<p>Simak testimoni yang dibuat oleh seorang pembaca 9S10A di halaman Facebooknya: <em>I just finished reading your book less than 48hr. The way you tell the story is simple yet very elegant and beautiful. I cry and laugh reading it. To be honest 9 Summers 10 Autumns is the most inspiring book i ever read in my 22 years of life. I have to tell my girlfriends to read your book, its way amazing. Thank you for sharing your journey, truly inspiring</em>. Begitu jujur dan tulus.</p>
<p>Dan kalau kemudian saya juga merasa ke-geer-an untuk menulis review tentang novelnya ini, boleh jadi karena sepenggal jalan tempat kami pernah sama-sama tinggal saat mengecap kehidupan di Jakarta. Pada buku 9S10A, Kebun Pala II ditulisnya di halaman 169. Sepenggal Jalan, sebentuk kenangan.</p>
<p>Gang Kebon Pala II, adalah sebuah gang sempit yang menyambung dengan gang Kebon Pala I dan III. Ketiganya saling menghubungkan satu dengan yang lain dalam kerumitan labirin di ibukota. Pintu masuk gang di Jl. KH. Mas Mansur &#8211; jalan besar dan sibuk menuju kawasan Pasar Tanah Abang -  agak sedikit lebar namun semakin menyempit saat kita masuk lebih ke dalam. Jika berpapasan, pengendara motor harus berhenti, dan memberi kesempatan kepada motor lain untuk melaju lebih dulu. Selokan di pinggir gang, seperti kebanyakan saluran drainase di Jakarta, selalu kotor, mengalirkan air kehitaman dan aneka rupa sampah. Pada malam hari, tikus-tikus got sebesar &#8220;gaban&#8221; akan keluar dari sarang-sarang mereka untuk mencari makan.</p>
<p>Disinilah saya kenal Iwan, yang sudah lebih dulu kos disana. Waktu itu, Iwan sudah menjadi &#8220;eksekutif muda&#8221;, dan berkantor di kawasan bisnis Jakarta. Sementara saya tengah merintis karir sebagai wartawan di Majalah SWA, sebuah majalah ekonomi dan bisnis.</p>
<p>Iwan menempati kamar di lantai bawah, terpisah dari rumah induk, dan harga sewanya lebih mahal. Sementara saya menempati kamar di lantai dua, yang berlantai kayu, berdinding triplek, dengan hawa panas menyergap saat pintu dibuka, waktu pulang ke kos setelah beraktifitas seharian.</p>
<p>Saya tidak terlalu dekat dengan Iwan secara pribadi. Kesibukan kami saat bekerja membuat komunikasi kami pun berlangsung singkat seperti umumnya hubungan antar penghuni kos. Biasanya, kami bertemu hanya ketika sama-sama menunggu giliran mandi, saat sama-sama berangkat ke tempat kerja, atau saat rehat di kos waktu libur di akhir pekan. Di waktu-waktu seperti itu, kami ngobrol singkat tentang hal-hal ringan. Adakalanya tentang pekerjaan, tentang Pak Andi Hakim Nasution, tentang Pak Raden Pardede yang jadi bosnya di Danareksa, dan obrolan ringan lain.</p>
<p>Iwan bergaul cukup erat dengan lingkungan kos tempat kami tinggal. Jadwal kerjanyanya yang teratur, membuat Iwan punya waktu di kos lebih banyak, ketimbang saya yang jadwal kerjanya tak beraturan, sehingga tak cukup punya waktu untuk bersosialisasi, (9S10A, hal 183).</p>
<p>Ia pun ringan dalam menolong. ia membantu saya memilih dasi miliknya yang dapat saya pakai ketika saya harus meliput sebuah konfrensi di Singapura yang sekaligus menjadi perjalanan pertama saya ke luar negeri. Iwan juga yang membantu mempadupadankan dasi dengan kemeja yang akan saya kenakan. Jadilah kemudian saya hadir dalam konfrensi di kawasan Suntec Singapura itu dengan dasi pinjaman.</p>
<p>Sempat juga menjelang masa-masa keberangkatannya ke Amerika,dalam sebuah obrolan ringan Iwan bercerita tentang wawancaranya dengan calon bosnya di kantor Nielsen Research di New York. Ingatan tentang obrolan ini yang kemudian saya temukan, di hal 188, saat ia diwawancara Rickie Khosla, dari Kanotr Nielsen di NY. Waktu itu, meski sedikit &#8220;iri&#8221; dengan keberhasilan karir teman saya itu, terselip juga rasa bangga pada kawan satu kosan di Kebon Pala ini. &#8220;Hebat juga ada penghuni kos kebon pala yang akhirnya bisa berkarir di New York,&#8221; pikir saya.</p>
<p>Kembali ke bukunya, begitulah, 9S10A menjadi sangat menarik karena tak hanya bercerita tentang perjuangan memenangkan hidup. Saat sama-sama kos di Kebun Pala, Iwan sudah jadi eksekutif muda dan tak memperlihatkan sisi personalnya yang anak sopir angkot di Malang. Ia malah terlihat pede dan bergaya layaknya, itu tadi &#8220;eksekutif muda&#8221;.  Berkemeja lengan panjang dan berdasi saat bekerja, dan berkantor di kawasan bisnis Jakarta &#8211; Belakangan, lewat obrolan di telepon, setelah saya khatam membaca  bukunya, ia mengaku teman-temannya di Jakarta, tak ada yang tau soal  latar belakangnya ini.  Tentu selain otak yang encer &#8211; Iwan adalah lulusan terbaik MIPA IPB 1997- kerja kerasnya saat di Nielsen dan Danareksa Jakarta, dan yang lebih penting lagi, dukungan do&#8217;a dan cinta seluruh keluarganya di Batu, membuatnya pantas meraih  karir cemerlang di kota dunia seperti New York.</p>
<p>Dan kalaupun kemudian ia piawai, serta mampu menuliskan perjalanan hidupnya dengan bahasa yang sederhana dan nyaman dibaca. Itu juga yang menjadi kelebihannya yang lain. Ia pun menambah daftar para penulis cum motivator yang menuliskan pengalaman mereka menuju keberhasilan dalam kehidupan, melalui pendidikan setelah (Andrea) Hirata, dan (Ahmad) Fuadi. Ia pun turut memberi nuansa dalam khasanah bacaan (baca: sastra) inspiratif Indonesia di era kekinian.</p>
<p>Alhasil, Rak buku saya pun kini bertambah koleksinya. Setelah Para Priyayi, Jalan Menikung, Sri Sumarah, Orang-orang Bloomington, Asmaraloka, Negeri Senja, Tirani dan Benteng, Ronggeng Dukuh Paruk, Wasripin dan Satinah, Khotbah di Atas Bukit, Impian Amerika, kini ada 9 Summers 10 Autumns.</p>
<p>Oke Wan, sekarang kamu telah menjadi salah satu penulis favorit saya. Bukumu kini bersanding bersama mereka.</p>
<p><em>Proud of You. </em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/85/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/85/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=85&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2011/04/01/9-summers-10-autumns-catatan-kenangan-di-sepenggal-jalan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/04/buku.jpg?w=271" medium="image">
			<media:title type="html">buku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Taman Tempat Menanam Harapan</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/21/di-taman-kami-menanam-harapan/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/21/di-taman-kami-menanam-harapan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Jan 2011 23:48:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Di Jalan AH Nasution Bandung  264 &#8211; dulu Jl. Raya Sindanglaya -  tepatnya di kompleks Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Badan Litbang Kementrian Pekerjaan Umum, tersimpan mutiara dan pesona lingkungan yang tidak (belum) banyak diketahui publik. Terlindung bangunan peredam kebisingan, pada lahan seluas sekitar 2000 meter persegi, sejak setahun lalu, telah hadir sebuah taman [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=65&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_75" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00736-20110112-09544.jpg"><img class="size-medium wp-image-75" title="Taman Kolam Pusjatan" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00736-20110112-09544.jpg?w=300&#038;h=191" alt="" width="300" height="191" /></a><p class="wp-caption-text">Taman Kolam Pusjatan</p></div>
<p>Di Jalan AH Nasution Bandung  264 &#8211; dulu Jl. Raya Sindanglaya -  tepatnya di kompleks Pusat Penelitian Jalan dan Jembatan (Pusjatan) Badan Litbang Kementrian Pekerjaan Umum, tersimpan mutiara dan pesona lingkungan yang tidak (belum) banyak diketahui publik.</p>
<p>Terlindung bangunan peredam kebisingan, pada lahan seluas sekitar 2000 meter persegi, sejak setahun lalu, telah hadir sebuah taman dengan kolam buatan yang luas.</p>
<p>Puluhan tanaman peneduh, diselingi pohom kamboja tertanam dengan rapi, berjarak sama, diantara hamparan rumput, berselang seling dengan jalur untuk pejalan kaki yang ditembok rapi saling menghubungkan.</p>
<div id="attachment_71" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00768-20110122-0653.jpg"><img class="size-medium wp-image-71" title="Taman Pusjatan " src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00768-20110122-0653.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Taman Pusjatan Suatu Pagi</p></div>
<p>Inilah taman yang nantinya akan menjadi salah satu tempat warga di kawasan Bandung Timur meluangkan waktunya. Bercengkrama dengan keluarga sembari menikmati keindahan alam, semilir angin, riak air, dan cericit burung di sela-sela pepohonan.</p>
<p>Taman yang akan menjadi pusat kegiatan. Mengurangi arus langkah penduduk kota ke mal dan pusat-pusat belanja. Mengurangi budaya konsumerisme yang sudah mengurat mengakar di masyarakat. Di sini, para warga dapat berolahraga ringan, berjalan kaki mengelilingi kolam, membakar kalori sambil menikmati sejuknya udara.</p>
<p>Lokasi taman memang bersebelahan dengan Jalan AH Nasution yang sibuk dan menghubungkan kawasan Bandung Timur dengan salah satu titik kemacetan di kota Bandung ; Terminal Cicaheum dan kawasan lainnya di pusat kota. Namun, keriuhan jalan seolah tak terdengar di taman ini. Menjadi kontras karena suasananya yang senyap dan tenang, menghanyutkan.</p>
<div id="attachment_77" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00776-20110122-0716.jpg"><img class="size-medium wp-image-77" title="Bangunan Peredam Kebisingan" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00776-20110122-0716.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Bangunan Peredam Kebisingan di Pusjatan</p></div>
<p>Satu taman lagi yang sedang dalam tahap akhir penyelesaian ada di komplek perumahan tempat saya tinggal, Ujungberung Indah. Pembangunan taman ini adalah inisiatif pengurus RW 11 Komplek Ujungberung Indah untuk menyediakan ruang publik yang nyaman bagi para penghuni komplek. Selain sebuah lapangan kecil tempat anak-anak dan remaja bermain bola. Taman juga dilengkapi gazebo yang menjadi tempat serbaguna.</p>
<p>Taman-taman ini akan menambah jumlah taman dan ruang publik yang memang sangat terbatas jumlahnya di Bandung. Terlebih, sekarang ini lokasi taman banyak tersebar di pusat kota, dan kawasan Bandung Utara. Hadirnya taman-taman di kawasan timur Bandung menjadi penyeimbang, di tengah padatnya populasi penduduk di kawasan yang sebelumnya telah menjadi kawasan industri ini.</p>
<div id="attachment_78" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00763-20110121-1725.jpg"><img class="size-medium wp-image-78" title="Taman RW 11 Komplek Ujungberung Indah" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00763-20110121-1725.jpg?w=300&#038;h=225" alt="" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Taman RW 11 Komplek Ujungberung Indah</p></div>
<p>Dalam imaji saya yang sederhana, kedua taman ini akan menjadi taman masa depan untuk warga kawasan Bandung Timur dan sekitarnya. Setiap pagi di akhir pekan, taman ini akan diramaikan oleh masyarakat yang berolahraga dan menikmati alam. Saat senja, warga pun dapat kembali berinteraksi dan bercengkrama dibawah rindang pepohonan, semilir angin dan senyum matahari yang beranjak ke peraduan.</p>
<p>Hanya saja perlu diperhatikan oleh para pengelola taman, kelaziman di kota-kota dunia ketiga seperti Bandung. Keramaian suasana bakal mengundang naluri bisnis para pengusaha untuk datang dan menangkap peluang usaha. Para pedagang kaki lima akan berbondong-bondong datang dan turut meramaikan suasana. Menjajakan aneka barang dagangan, dan membikin semrawut. Namun, saya yakin di kedua taman ini, ketegasan para penjaga dan pengelola akan tetap ada untuk menjadikan taman ini senantiasa menjadi milik warga. Semoga.</p>
<div id="attachment_79" class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00765-20110121-1726.jpg"><img class="size-full wp-image-79" title="Taman RW 11 Uber Indah" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00765-20110121-1726.jpg?w=604&#038;h=449" alt="" width="604" height="449" /></a><p class="wp-caption-text">Seorang Anak Bersepeda di Taman RW 11 Ujungberung Indah</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=65&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/21/di-taman-kami-menanam-harapan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00736-20110112-09544.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Taman Kolam Pusjatan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00768-20110122-0653.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Taman Pusjatan </media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00776-20110122-0716.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bangunan Peredam Kebisingan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00763-20110121-1725.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Taman RW 11 Komplek Ujungberung Indah</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/img00765-20110121-1726.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Taman RW 11 Uber Indah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Peta Wisata Kuliner Kota Tasikmalaya</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/15/tentang-peta-wisata-kuliner-kota-tasikmalaya/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/15/tentang-peta-wisata-kuliner-kota-tasikmalaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 15 Jan 2011 01:04:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Peta]]></category>
		<category><![CDATA[Peta Wisata Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik Funtastic Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Tasikmalaya]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Sebagai salah satu kota dengan kekayaan dan keragaman kuliner yang luar biasa, kota Tasikmalaya menyimpan potensi sebagai salah satu kota destinasi wisata kuliner di kawasan Priangan Timur juga di Jawa Barat. Kekayaan kuliner kota Tasikmalaya ditandai dengan beragamnya jenis dan jajanan kuliner yang dapat dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke kota pesantren ini. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=55&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><a href="http://www.4shared.com/file/ecjkS-hK/Peta_Wisata_Kuliner_Tasik.html" target="_blank"><img class="size-full wp-image-56 aligncenter" title="Peta Wisata Kuliner Tasik " src="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/peta-wisata-kuliner-tasik-resize.jpg?w=604" alt=""   /></a></p>
<p>Sebagai salah satu kota dengan kekayaan dan keragaman kuliner yang luar biasa, kota Tasikmalaya menyimpan potensi sebagai salah satu kota destinasi wisata kuliner di kawasan Priangan Timur juga di Jawa Barat. Kekayaan kuliner kota Tasikmalaya ditandai dengan beragamnya jenis dan jajanan kuliner yang dapat dinikmati oleh masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke kota pesantren ini.</p>
<p>Tak hanya makanan/jajanan yang menjadi kegemaran bersama seperti mie baso, bubur ayam, atau kupat tahu, kota Tasikmalaya memiliki salah satu penganan unik yang sejatinya telah menjadi ikon kuliner kota, yaitu Sangu (Nasi) Tutug Oncom (TO). Nasi Tutug oncom boleh diklaim sebagai inovasi kuliner asli orang Tasik, dan resepnya telah diturunkan secara turun temurun dari satu generasi ke generasi penerusnya.  Makanan khas yang sederhana dalam penyajian namun memiliki kekayaan dalam rasa, kini menjadi kuliner pusaka kebanggaan masyarakat.</p>
<p>Sebagai bagian dari upaya untuk mewujudkan cita-cita menjadikan Tasik sebagai kota tujuan wisata kuliner, dengan inisiatif pribadi, saya hadirkan Peta Wisata Kuliner Kota Tasikmalaya. Peta ini pada awalnya merupakan halaman sisipan dalam buku “Tasik Funtastic Kuliner”,  yang saya susun dan merupakan panduan tempat makan dan jajan, serta berwisata kuliner di Tasikmalaya. Distribusi buku ini telah tersebar di beberapa kota seperti Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya,  bahkan telah berpartisipasi di ajang Food and Hotel Asia Expo di Singapura pada April 2010, serta dikirimkan kepada warga Tasikmalaya yang bermukim di Sidney (Australia), Tokyo (Jepang), Freiberg (Jerman) dan New York (Amerika Serikat).</p>
<p>Didasari kebutuhan tersedianya peta saku yang praktis untuk memandu wisatawan saat berwisata kuliner di kota Tasikmalaya, maka sisipan peta di buku kemudian dilepaskan dan dicetak terpisah dalam ukuran kertas A3 (297 mm x 420 m) dan diberi cover berukuran 110 mm x 95 mm. Rekan saya, penggiat kreatif kota Tasik, Uyung Arya dan Adit Hiracahya kemudian memberikan sentuhan desain pada Peta Wisata Kuliner ini sehingga terlihat artistik dan mudah digunakan. Selain petunjuk dan lokasi wisata kuliner yang lebih jelas, di halaman belakang peta tersedia juga foto-foto aneka kuliner favorit di kota Tasikmalaya.</p>
<p>Penerbitan Peta Wisata Kuliner Kota Tasikmalaya ini didukung oleh Hotel Asri (Asia Plaza), Bis Cepat Budiman, Telkomsel, Teh Botol Sosro, dan Resto Jolly Joy. Keterlibatan para sponsor, merupakan bentuk dukungan pengembangan program wisata kota yang harus melibatkan banyak pihak seperti pengelola hotel, penyedia sarana transportasi, operator telekomunikasi, dan pemilik/pengelola kuliner di kota Tasikmalaya, juga oleh pemerintah kota selaku salah satu pemangku kepentingan (stakeholder).</p>
<p>Tentu saja peta wisata kuliner kota Tasikmalaya ini masih banyak kekurangannya. Salah satunya, fokusnya masih terbatas pada lokasi kuliner yang ada di pusat kota. Sedangkan beberapa lokasi kuliner yang tersebar di beberapa kawasan seperti Indihiang, Jl BKR, dan Kawasan kampus Universitas Siliwangi, belum tercakup disini. Ke depan, dalam penerbitan peta wisata kuliner kota Tasikmalaya berikutnya, mudah-mudahan informasi lokasi wisata kuliner di kawasan tersebut bisa tercakup. Dengan begitu, nantinya akan tersedia peta wisata kuliner yang lengkap mencakup seluruh kawasan di kota Tasikmalaya. Ini artinya perlu dukungan dari para penggiat dan pencinta kuliner untuk menginformasikan lokasi-lokasi kuliner pilihan di tempat-tempat tersebut. Atau barangkali, saya harus siap-siap mengosongkan perut dan menjelajahi lokasi-lokasi kuliner tersebut satu persatu <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Peta Wisata Kuliner Kota Tasikmalaya, dicetak sebanyak 3.000 eksemplar dan didistribusikan melalui perusahaan penyelenggara Tour/Travel di Jakarta, Bandung, dan di beberapa lokasi hotel/restoran di kota Tasikmalaya. Untuk yang memerlukan, silakan klik foto peta untuk mendapatkan link ke file aslinya. Ke depan, seiring perkembangan teknologi, doakan saja agar aplikasi peta ini bisa diunduh (download) via ponsel, digabungkan dengan layanan GPS dan terhubung ke jejaring media sosial seperti foursquare dan koprol untuk memudahkan pencarian.</p>
<p>Selamat berwisata kuliner di kota Tasikmalaya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/55/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/55/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=55&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2011/01/15/tentang-peta-wisata-kuliner-kota-tasikmalaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2011/01/peta-wisata-kuliner-tasik-resize.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Peta Wisata Kuliner Tasik </media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Kearifan Hidup dari Kang Ibo</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2010/06/14/belajar-kearifan-hidup-dari-kang-ibo/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2010/06/14/belajar-kearifan-hidup-dari-kang-ibo/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 01:31:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=48</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;life is not for eat, eat is not for life, life is about struggle&#8221; Ungkapan bijak itu tidak saya peroleh dari seorang filsup di twitter yang accountnya saya follow, tidak juga saya dapat dari seorang seleb di TV atau seorang motivator di seminar entreprneurship. Akan tetapi dari seorang petani sederhana di Kp. Cidahu, Ds. Mekar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=48&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>&#8220;life is not for eat, eat is not for life, life is about struggle&#8221;</em></p>
<p>Ungkapan bijak itu tidak saya peroleh dari seorang filsup di twitter yang accountnya saya <em>follow</em>, tidak juga saya dapat dari seorang seleb di TV atau seorang motivator di seminar <em>entreprneurship</em>. Akan tetapi dari seorang petani sederhana di Kp. Cidahu, Ds. Mekar Wangi, Kec. Cisayong Tasikmalaya.</p>
<p>Petani itu, Hendra Kribo namanya, telah menyadarkan saya bahwa inti dari kehidupan adalah proses dan bukan hasil akhir. Dalam proses terkandung perjuangan yang tiada henti, untuk mendapatkan hasil terbaik. &#8220;Hasil akhir ini urusan Allah, karena dialah sesungguhnya yang Maha Menilai&#8221; katanya.</p>
<p>Wow. Darimanakah Hendra atau Kang Ibo (dari Kribo) mendapatkan kearifan ini? dari seminar? dari para seleb? dari internet?  Bukan Sodara. Sederhana saja. Kang Ibo mendapatkannya dari pengalamanan hidupnya yang sangat berwarna.</p>
<p>Sebelum menjadi petani padi menggunakan pola tanam SRI (System of Rice Intensification) alias budidaya padi organik, Kang Ibo menghabiskan separuh usianya di berbagai daerah di Indonesia.</p>
<p>Sebagai anak petani, dan cucu seorang ajengan di kampungnya, ia disekolahkan di PGA (Pendidikan Guru Agama), agar nantinya bisa menjadi guru mengaji. Disini ia malah tak betah. Sekolah di PGA tidak ia selesaikan karena lebih banyak bergaul dengan anak-anak geng motor. Idolanya saat itu adalah (alm) Gito Rollies, yang memang terkenal urakan dan menjadi model untuk kaum <em>hippies </em>di Indonesia saat itu, sekitar tahun 1970an.</p>
<p>Tak puas dengan kehidupan ala <em>hippies</em> di Tasik yang ala kadarnya, ia kemudian ke Bali, dan menjadi anak pantai. Tinggal di kawasan Kuta dan Legian, Ibo menjadi pemasok aneka kebutuhan turis. Apapun itu, sejak menemani turis ngobrol di bar dan kelab malam, hingga menyediakan (maaf) ; perempuan penghibur, ganja dan mariyuana.</p>
<p>Lalu, bagaimana Ibo berkomunikasi dengan konsumennya? bisakah ia berbahasa Inggris? Disinilah ia mempraktekan apa yang disebut sebagai <em>learning by doing</em>. Ia belajar dengan bertanya langsung kepada para penutur aslinya. Ia bertanya apa bahasa inggrisnya tangan, hidung, kaki, meja, kursi hingga mampu merangkai kalimat. Dengan cara itulah dia hidup</p>
<p>Ibo mengakui, saat itu meski uang bisa didapatnya mudah, hatinya merasa gelisah. Dalam kontemplasinya, ia disadarkan bahwa sebagai cucu ajengan, ia tidak sepantasnya mencari uang dengan cara itu. Ia kemudian memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya.</p>
<p>Di Tasik, karena sudah <em>babalik pikir</em> alias sadar, Ibo disambut bak seorang pahlawan. Ia yang ingin berguru malah diangkat sebagai panutan. Maklum cucu kiai, apalagi kemudian dianggap sukses saat merantau di Bali. Hal ini membuatnya malu dan salah tingkah. Sudah terlanjur dianggap <em>hero</em>, Ia pun lantas mengelola sepetak sawah milik bapaknya.</p>
<p>Model pertanian konvensional yang digunakan para petani ternyata tidak memikatnya. Menurutnya apa yang dilakukan para petani termasuk bapaknya adalah pertanian simalakama. Bertani untuk bertahan hidup, bukannya malah sejahtera, hasilnya tidak seberapa.  Ini karena saat mengelola sawahnya, petani bertanya cara2 bertani kepada mereka yang tidak paham cara bertani. &#8220;Mereka datang ke toko pupuk yang notabene tidak hidup di sawah, Untuk mengusir hama, petani malah diberi obat-obat kimia&#8221; ujarnya.</p>
<p>Kang Ibo kemudian memelopori budidaya padi organik dengan cara SRI itu. Ia menyemai padi dengan belajar dari kearifan alam. Ia kembalikan kesuburan tanah dengan tidak memberinya racun dari pupuk urea dan pestisida. Sebagai gantinya, Ia menggunakan kompos, dari kotoran hewan dan buah-buahan busuk. Untuk menyaring air agar tidak terkontaminasi zat-zat berbahaya, ia menggunakan eceng gondok sebagai penyaring. Untuk mengusir tikus, ia menumbuk jengkol, merendamnya dan mengambil saripatinya untuk kemudian disemprotkan di pematang dan lubang-lubang tikus. &#8220;Kita tidak perlu membunuh (tikus), biarlah ular sebagai pemangsa alami yang membereskannya, agar ekosistem terjaga&#8221; katanya.</p>
<p>Pada awalnya, upaya Ibo menanam padi organik banyak dicibir para petani di kampungnya. Banyaknya cibiran malah melecut semangatnya untuk terus bertani dengan cara ini. Hasilnya, hasil budidaya organik ternyata lebih baik dari sisi waktu dan hasil panen hingga dua kalinya. Dengan hasil panen seperti ini pun masih banyak yang tidak percaya. &#8220;Sekarang tugas saya yang lain adalah mengikis penyakit &#8220;<em>atuda</em>&#8221; (penyangkalan) dan &#8220;<em>keheula</em>&#8220;  (nanti dulu) para petani untuk beralih ke budidaya organik&#8221; katanya sembari tertawa.</p>
<p>Saat ini, caranya bertanam padi organik ditiru banyak petani. Tak hanya di Tasikmalaya juga di berbagai wilayah lain di Indonesia. Petani dari Flores, Bali, Malang Jawa Timur dan Boyolali Jawa Tengah selama seminggu belajar di Sawah Ibo. Sosiolog Imam Prasodjo pun merasa perlu mengundang Ibo ke Purwakarta untuk mengajari petani binaannya di sana.</p>
<p>&#8220;Eh Kang, disebut Kribo ini karena rambut Anda memang kribo ya?&#8221; tanya saya. &#8220;Satu itu, yang kedua, Kribo ini singkatan&#8221; jawabnya. &#8220;Singkatan apa&#8221; tanya saya lagi. &#8221; Kreatif Rakyat Inovatif  Budidaya Organik&#8221; jawabnya kalem.</p>
<p>Halah &#8230;. (*)</p>
<p><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/06/ibo-dan-hendri.jpg"><img title="Kang Ibo dan Kadis Pertanian Kab Tasik Henry Nugroho" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/06/ibo-dan-hendri.jpg?w=435&#038;h=326" alt="" width="435" height="326" /></a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/48/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/48/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=48&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2010/06/14/belajar-kearifan-hidup-dari-kang-ibo/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/06/ibo-dan-hendri.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Kang Ibo dan Kadis Pertanian Kab Tasik Henry Nugroho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Empat Tahun Disusun Berawal dari Hobi Mencicipi Makanan</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2010/05/23/empat-tahun-disusun-berawal-dari-hobi-mencicipi-makanan/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2010/05/23/empat-tahun-disusun-berawal-dari-hobi-mencicipi-makanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 May 2010 11:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[baso]]></category>
		<category><![CDATA[bubur ayam]]></category>
		<category><![CDATA[kupat tahu]]></category>
		<category><![CDATA[nasi tutug oncom]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik Funtastic Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Link Asli : http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&#38;view=category&#38;layout=blog&#38;id=29&#38;Itemid=181&#38;limitstart=180 Dibalik Buku Tasik Funtastic Kuliner Buku Tasik Funtastic Kuliner, belum banyak dikenal masyarakat Kota Tasikmalaya. Namun buku yang ditulis Maulana Yudiman, ternyata sudah banyak dibaca orang-orang dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surbaya, bahkan sampai dikirim ke luar negeri. Tina Agustina, Letnan Harun BUKU Tasik Funtastic Kuliner membahas berbagai aneka makanan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=42&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Link Asli : http://www.radartasikmalaya.com/index.php?option=com_content&amp;view=category&amp;layout=blog&amp;id=29&amp;Itemid=181&amp;limitstart=180</p>
<p><strong>Dibalik Buku Tasik Funtastic Kuliner<br />
</strong><br />
Buku Tasik Funtastic Kuliner, belum banyak dikenal masyarakat Kota Tasikmalaya. Namun buku yang ditulis Maulana Yudiman, ternyata sudah banyak dibaca orang-orang dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surbaya, bahkan sampai dikirim ke luar negeri.</p>
<p><strong>Tina Agustina, Letnan Harun</strong></p>
<p>BUKU Tasik Funtastic Kuliner membahas berbagai aneka makanan yang ada di Kota Tasikmalaya. Untuk menyusun buku ini ternyata tidak sebentar. Maulana Yudiman yang kerap disapa Yudi ini, mulai berkeliling mencicipi setiap jajanan yang ditemukan di sekitar Kota Tasikmalaya. Untuk berkeliling ke setiap sudut kota ini, ia memulainya sejak tahun 2006 lalu.</p>
<p>Maulana sendiri adalah putra Tasikmalaya. Jadi dia tak terlalu repot untuk menelusuri lolong-lorong kota, sekadar untuk mencicipi makanan yang ada di kota ini. Jenis makanan yang dibukukan tidak hanya yang dijual dari restoran mewah. Namun yang dikelola para UKM Kota Tasikmalaya.</p>
<p>“Yang saya tahu ketika kecil, Kota Tasikmalaya dikenal dengan kota seribu bukit. Mungkin julukan itu bisa berubah. Kayanya kuliner khususnya bakso, bisa saja kota ini sebagai kota seribu bakso,” ungkap Yudi ketika memperkenalkan bukunya di Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kota Tasikmalaya belum lama ini. Itulah yang mendorong dirinya menulis buku Tasik Funtastic Kuliner.</p>
<p>Tidak hanya terkenal dengan baksonya, kekayaan kuliner Kota Tasikmalaya bisa terlihat dari banyaknya aneka jajanan. Mulai dari aneka mie, bubur ayam, nasi tutug oncom, tahu kupat, sate, soto, rujak dan lotek. Rumah makan dan warung nasi pun begitu berjejer di setiap pelosok Kota Tasikmalaya.</p>
<p>Bagi Yudi, aneka makanan ini sebetulnya bisa menjadi potensi yang begitu besar bagi Kota Tasikmalaya. Bahkan dari pengamatannya, bisa mendatangkan banyak orang, meskipun sekadar untuk mencicipi makanan khas Kota Tasikmalaya. “Apalagi nasi tutug oncom, sebetulnya itu adalah makanan yang betul-betul khas Kota Tasikmalaya. Di beberapa kota yang saya datangi, kalau makan nasi tutug oncom, pasti selalu membawa identitas Kota Tasikmalaya,” tandasnya.</p>
<p>Buku yang dibuat Yudi, memang belum bisa dimiliki warga Kota Tasikmalaya. Tapi baru bisa dinikmati melalui situs jejaring sosial seperti facebook atau jaringan pertemanan lainnya. Sehingga buku ini sudah dikenal untuk dijadikan tujuan wisata kuliner. Pembacanya orang-orang dari luar kota seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, bahkan sampai luar negeri. “Melalui buku yang saya tulis ini, saya bisa memperkenalkan kota kelahiran saya, yang ternyata memiliki potensi besar di bidang kuliner, ” paparnya.</p>
<p>Buku setebal 72 halaman ini sempat ditolak oleh perusahaan percetakan besar. Dengan alasan skup Kota Tasikmalaya yang dianggap terlalu kecil. Namun dia tak patah arang. Sekalipun buku tersebut dianggap tidak begitu memiliki nilai jual. (*)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/42/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/42/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=42&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2010/05/23/empat-tahun-disusun-berawal-dari-hobi-mencicipi-makanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Tentang Buku Tasik Funtastic Kuliner</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2010/03/09/tentang-buku-tasik-funtastic-kuliner/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2010/03/09/tentang-buku-tasik-funtastic-kuliner/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 00:51:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Wisata Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[baso]]></category>
		<category><![CDATA[Bubur]]></category>
		<category><![CDATA[Buku]]></category>
		<category><![CDATA[kupat tahu]]></category>
		<category><![CDATA[nasi tutug oncom]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik]]></category>
		<category><![CDATA[Tasik Funtastic Kuliner]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Buku Tasik Funtastic Kuliner lahir dari kesadaran tentang pentingnya aspek promosi dan pemasaran untuk menjadikan sebuah produk, khususnya produk kuliner, banyak dikenal. Terlebih, untuk kota Tasikmalaya yang memiliki visi sebagai pusat perdagangan dan industri termaju di kawasan Priangan Timur tahun 2012. Terinspirasi dari branding kota/negara Singapura, Uniquely Singapore, Amazing Thailand-nya Thailand, Incredible India-India, atau Everlasting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=31&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/03/01-cover1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-33" title="01- Cover" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/03/01-cover1.jpg?w=604" alt=""   /></a>Buku Tasik Funtastic Kuliner lahir dari kesadaran tentang pentingnya aspek promosi dan pemasaran untuk menjadikan sebuah produk, khususnya produk kuliner, banyak dikenal. Terlebih, untuk kota Tasikmalaya yang memiliki visi sebagai pusat perdagangan dan industri termaju di kawasan Priangan Timur tahun 2012. Terinspirasi dari branding kota/negara Singapura, Uniquely Singapore, Amazing Thailand-nya Thailand, Incredible India-India, atau Everlasting Beauty-nya Bandung dan Never Ending Asia-nya Jogja. Untuk Tasik, khususnya produk kulinernya, saya usulkan branding Tasik Funtasic. Terjemah bebasnya, Berkuliner di Tasik itu pasti “Fun” (menyenangkan) dan meng“Asyik” kan.</p>
<p>Selama ini, informasi tentang kuliner kota Tasikmalaya yang berisi komentar, review, dan pengalaman mencicipi kelezatannya, banyak berserakan di berbagai media. Baik itu cetak maupun elektronik. Beberapa pemilik dan pengelola usaha kuliner di Tasik bahkan sudah pernah diliput secara khusus oleh beberapa stasiun TV swasta nasional. Namun, kebanyakan hanya menginformasikan satu-dua makanan/kuliner yang secara umum sudah banyak dikenal.</p>
<p>Padahal kota Tasikmalaya menyimpan potensi wisata kuliner yang luar biasa. Bayangkan, untuk kategori jajanan mie baso saja, Tasik memiliki beberapa ’genre’ baso. Jika dilihat dari asal daerahnya, ada baso Solo, baso Wonogiri, baso Ciamis. Belum lagi jika dilihat dari varian isinya. Baso babat dan ceker mungkin sudah biasa. Tapi bagaimana dengan Baso Tangkar? Atau Baso Kurdi yang mencampur mie dengan rajangan kubis? Belum lagi jenis makanan/kuliner yang lain. Nasi Tutug Oncom (TO) Tasik sudah sejak lama dikenal kelezatannya. Nasi TO boleh diklaim sebagai inovasi kuliner asli orang Tasik. Tahu kupat Tasik juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Mau rujak dan lotek? Di Jalan R Ikik Wiradikarta (Kalektoran) setidaknya terdapat dua pedagang yang senantiasa menjadi rujukan.</p>
<p>Dari sini bisa diambil kesimpulan, masyarakat kota Tasikmalaya terbuka dan apresiatif terhadap aneka jenis kuliner. Selain itu, para pemilik usaha kuliner juga senantiasa menjaga kualitas rasa dan karya kuliner mereka, tidak berubah dan mampu bertahan sepanjang waktu. Bubur Ayam H. Zenal telah hadir sejak tahun 1961. Soto Ayam 23 Pataruman, kini dikelola generasi ketiga, dan masih banyak lagi usaha kuliner yang telah diturunkan dan diteruskan oleh generasi penerus. Dengan demikian, kuliner kota Tasik juga merupakan salah satu warisan budaya kota yang harus dilestarikan.</p>
<p>”Proyek” mendokumentasikan kuliner kota Tasikmalaya ini sebenarnya telah dimulai sejak 2006. Setelah tidak lagi bekerja sebagai jurnalis di Jakarta, saya mengelola usaha budidaya ikan air tawar di Kampung Balo, Sukamahi &#8211; Sukaratu, Tasikmalaya. Kondisi ini mengharuskan saya menghabiskan waktu di dua tempat sekaligus. Bandung, dimana saya dan keluarga berdomisili, dan Tasik tempat saya menjalankan usaha. Di sela-sela waktu luang menjalankan usaha itulah saya berwisata kuliner, ngobrol dengan pemilik dan pengelola usaha kuliner, memotret dan menulis ”laporan pandangan mata”, dari lokasi wisata kuliner yang saya kunjungi.</p>
<p>Beberapa diantaranya adalah langganan sejak lama. Masih teringat, saat SD tahun 80an diajak orang tua menikmati Bubur Zenal, Baso Komar, Tahu Kupat Kabita, atau Ayam Bakar Riung Gunung yang kelezatannya masih bisa saya bayangkan hingga saat ini. Ketika SMP dan SMA preference kuliner saya bertambah karena bersama teman kemudian jajan di (Baso) Laksana, atau menikmati Nasi TO Pataruman, sebagai ”konsumsi” wajib saat berkegiatan Pramuka. Setelah harus meninggalkan kota Tasikmalaya karena studi di Bandung dan kemudian bekerja di Jakarta, kuliner kota Tasikmalaya hanya bisa dinikmati saat lebaran tiba. Tentu dengan ragam dan kekhasan yang semakin bertambah. Beberapa orang teman di masa kecil bahkan menjalankan usaha di bidang kuliner dan sukses.</p>
<p>Di era ketika arus informasi mengalir sangat deras melalui internet. Saya semakin dimudahkan dan diuntungkan dalam mengerjakan proyek dokumentasi kuliner ini. Dari milis, facebook, blog, banyak orang berbagi informasi tentang lokasi tempat jajanan favorit, yang kemudian saya datangi untuk saya buktikan sendiri kebenaranya. Tak terasa, dari kegiatan yang semula hanya untuk konsumsi pribadi dan berbagi dengan kawan dekat, ternyata terhimpun menjadi kumpulan informasi yang cukup lengkap. Muncul gagasan di kepala untuk menjadikan kumpulan informasi ini sebagai buku, yang mudah-mudahan bermanfaat sebagai salah satu media informasi tentang kuliner yang ada di kota Tasikmalaya.</p>
<p>Patut diakui dan harap dimaklumi, Buku Tasik Funtastic Kuliner ini jelas tidak akan dapat mewadahi aspirasi kuliner semua orang. Terlebih jika yang menjadi ukuran adalah selera orang per orang. Untuk yang satu ini, ijinkan saya mengutip sebuah pepatah latin. De Gustibus Non Est Disputandum. Menurut situs wikipedia, arti pepatah ini kira-kira ; &#8220;Mengenai selera, tidaklah bisa dibuat sebuah diskusi.&#8221; Dengan demikian, jika buku ini tidak mampu mengundang selera anda untuk menikmati sajian yang ada di dalamnya, saya tidak bisa berbuat banyak. Selain karena semuanya sangat subjektif – informasi yang tersaji hadir hanya dari sudut pandang saya pribadi, juga karena alasan itu tadi ; Selera tak bisa diperdebatkan.</p>
<p>Butuh waktu cukup panjang hingga buku ini bisa diterbitkan. Maklum, setelah menjadi wirausahawan, praktis waktu saya banyak tersita untuk mencari sesuap nasi, ketimbang menjadikan upaya menerbitkan buku ini sebagai prioritas. Ada saran agar buku ini diserahkan ke penerbit. Akan tetapi setelah bertemu dengan kepala cabang sebuah grup penerbitan besar di Bandung, buku saya dianggap tidak cukup menarik secara komersil, dan karena sifatnya yang “niche market” diprediksi kurang bisa mendatangkan keuntungan. Tapi, kita tidak boleh menyerah hanya karena buku kita dianggap tak akan laku dijual bukan? Lagi pula, tujuan penerbitan buku ini semata-mata tidak untuk mencari untung, lebih banyaknya (amiin), buku ini adalah upaya saya mempromosikan kuliner kota kelahiran. Boleh kan?</p>
<p>Akhirnya, beruntung saya punya sedikit tabungan untuk memodali percetakannya, ditambah dukungan seorang dermawan yang kasihan karena buku ini tidak terbit-terbit. Jadilah buku ini naik cetak di sebuah percetakan, yang alhamdulillah karena juga milik seorang teman, sehingga bisa dihutangi dan dibayar belakangan. Jumlahnya? Tak banyak. Sesuai standar minimal percetakan saja agar ongkosnya tidak terlalu mahal. Demikian pula dengan distribusi dan pemasarannya. Karena tidak dimungkinkan masuk ke jaringan toko buku konvensional, pada akhirnya buku ini disebarluaskan dengan model distribusi indie, memanfaatkan jaringan hubungan pertemanan, kekerabatan, kekeluargaan dan persodaraan. Alhasil “Toko bukunya” pun beragam, ada facebook, twitter, email, milis, friendster, dsb. Jadi kalau Anda mendapatkan penawaran untuk membeli buku ini, mohon itu dianggap sebagai ganti ongkos percetakan saja, dan dengan begitu anda turut berpartisipasi dalam upaya promosi kota.:)</p>
<p>Terakhir, harapan saya, buku ini hadir untuk menjadi sarana promosi kuliner dan UKM kota Tasikmalaya. Jika kemudian muncul buku dan informasi dalam ragam dan bentuk lainnya yang menginformasikan kekayaan dan kekhasan kuliner kota tercinta ini, saya sungguh senang dan gembira. Semakin banyak, informasi tentang kuliner dan UKM kota Tasikmalaya ini tersebar, akan semakin banyak juga yang mengenal dan datang mengunjungi kota penghasil bordir, batik, dan tempat lahir Susi Susanti, atlit peraih emas olimpiade Barcelona 1992 ini. Semoga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=31&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2010/03/09/tentang-buku-tasik-funtastic-kuliner/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2010/03/01-cover1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">01- Cover</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ponsel</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2008/09/17/ponsel/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2008/09/17/ponsel/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 17 Sep 2008 05:31:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Umum]]></category>
		<category><![CDATA[Communicator]]></category>
		<category><![CDATA[Nokia]]></category>
		<category><![CDATA[Ponsel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Sekarang ini, ponsel nampaknya telah menyatu dalam kehidupan manusia modern, khususnya di Indonesia. Mengapa saya katakan di Indonesia? Kenapa tidak di seluruh dunia? Akui saja, tidak perlu jauh-jauh. Bahkan tukang ojeg di di depan komplek dekat rumah saya pun sudah menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dengan pelanggannya. Intinya, manusia modern pasti menggenggam hp. Apalagi saat sekarang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=21&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sekarang ini, ponsel nampaknya telah menyatu dalam kehidupan manusia modern, khususnya di Indonesia. Mengapa saya katakan di Indonesia? Kenapa tidak di seluruh dunia? Akui saja, tidak perlu jauh-jauh. Bahkan tukang ojeg di di depan komplek dekat rumah saya pun sudah menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dengan pelanggannya.</p>
<p>Intinya, manusia modern pasti menggenggam hp. Apalagi saat sekarang ini, dimana perang tarif sudah dikibarkan para operator penyelenggara layanan. Setidaknya 2 hingga 3 nomor dari operator berbeda digunakan agar biaya komunikasi menjadi lebih irit dan murah.</p>
<p>Kembali ke ponsel, rasanya, sulit dibayangkan jika sehari saja kita tidak menggenggam peranti komunikasi ini. Di masa lalu, telepon umum sempat jadi primadona, ditambah wartel yang tersebar di mana-mana. Seiring perkembangan teknologi wirelesss, senjakala kemudian segera saja menyergap kedua layanan telekomunikasi ini. Boleh dikata, wartel menjadi salah satu jenis usaha yang menunggu ajal pelan-pelan, karena tak banyak lagi yang membutuhkan.</p>
<p>Nah, beberapa waktu lalu, saya sempat merasakan kerepotan karena ponsel saya tidak bisa saya gunakan. Rusak? bukan sodara. Ponsel saya hilang, dicopet orang saat dalam angkot menuju masjid salam ITB, waktu hendak menunaikan ibadah shalat jumat.</p>
<p>Boleh jadi saya teledor, dan tak awas hingga ponsel 3110 Classic yang saya simpan di tempat ponsel di sabuk saya, sempat-sempatnya berpindah tangan. Proses hilangnya mungkin tak perlu saya ceritakan karena bikin dongkol dan gondok setengah hidup.</p>
<p><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_3110_classic_21.jpg"><img class="alignnone size-thumbnail wp-image-24" title="nokia_3110_classic_21" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_3110_classic_21.jpg?w=80&#038;h=96" alt="" width="80" height="96" /></a></p>
<p>Hanya saja karena terhalang waktu untuk shalat jumat, saya tidak langsung melapor dan memblokir nomor saya ke operator. Hebatnya, waktu dua jam antara ponsel saya hilang, shalat jumat dan saat saya melapor ke kantor operator, digunakan si copet untuk menghubungi beberapa teman dan meminta pulsa. Sialnya, beberapa teman pun percaya dan terpedaya dengan permintaan si copet yang mengatasnamakan saya.</p>
<p>Anyway, ini kehilangan ponsel saya yang kedua kalinya, setelah saya jadi pengacara/enterpreneur. Herannya waktu masih jadi karyawan, belum pernah kejadian ponsel saya hilang karena dicopet. Ponsel saya yang pertama kali dicopet adalah Nokia Communicator 9210i, yang menyimpan data/nomor telepon penting yang saya dapat sejak saya pertama bekerja.</p>
<p><a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_9210i.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-23" title="nokia_9210i" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_9210i.jpg?w=300&#038;h=180" alt="" width="300" height="180" /></a></p>
<p>Kerepotan yang muncul karena hilangnya ponsel adalah kita praktis terputus dengan &#8220;dunia sekitar&#8221; Terlebih, saya bukan tipe orang yang selalu mengingat nomor telepon. Selain karena saya tidak memiliki kemampuan fotografic memory, saya juga orang yang masuk kategori cepet inget cepet lupa hehehe</p>
<p>Lesson from this. Rajin-rajinlah menyimpan nomor telepon kolega, teman, pacar, mitra bisnis dan yang anda anggap penting di tempat lain. bisa di buku tulis atau komputer. diharapkan dengan cara itu, nomor anda bisa aman, meski anda kehilangan ponsel anda berkali-kali. Tapi yang lebih penting lagi, ya jangan sampai kecopetan dong. Emang enak?</p>
<p><span style="color:#0000ee;text-decoration:underline;"><br />
</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/myudiman.wordpress.com/21/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/myudiman.wordpress.com/21/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=21&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2008/09/17/ponsel/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_3110_classic_21.jpg?w=80" medium="image">
			<media:title type="html">nokia_3110_classic_21</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/09/nokia_9210i.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">nokia_9210i</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan-Jalan di Cihapit ; Bewara Ti Bank Saudara</title>
		<link>http://myudiman.wordpress.com/2008/07/14/jalan-jalan-di-cihapit-bewara-ti-bank-saudara/</link>
		<comments>http://myudiman.wordpress.com/2008/07/14/jalan-jalan-di-cihapit-bewara-ti-bank-saudara/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jul 2008 07:02:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>myudiman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jalan-jalan]]></category>
		<category><![CDATA[Bank Saudara 1906]]></category>
		<category><![CDATA[Cihapit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://myudiman.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Hari ini saya ada perlu ke Jl. Cihapit Bandung. Bukan nyari lontong tahu cihapit yang terkenal itu, kebetulan ada seseorang yang hendak saya temui disana. Hanya saja ditengah jalan, rencana pertemuan itu batal, dan saya pun memutuskan pulang kembali ke rumah di sindanglaya. Namun, jalan-jalan di kawasan Cihapit terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selain [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=19&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hari ini saya ada perlu ke Jl. Cihapit Bandung. Bukan nyari lontong tahu cihapit yang terkenal itu, kebetulan ada seseorang yang hendak saya temui disana. Hanya saja ditengah jalan, rencana pertemuan itu batal, dan saya pun memutuskan pulang kembali ke rumah di sindanglaya.</p>
<p>Namun, jalan-jalan di kawasan Cihapit terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selain banyak pedagang kaki lima yang berjualan makanan, suasana Cihapit yang adem dan teduh pun sangat menarik untuk dilewatkan berlama-lama. Mulailah saya menyusuri deretan kios barang bekas, &#8211; umumnya melayani jual-beli kaset, sepatu dan CD &#8211; di sepanjang jalan Cihapit dari arah kantor Bank NISP, menyeberang Jalan Riau hingga ke kawasan Cihapit yang masih teduh dengan pepohonan.</p>
<p>Saya sempat mengganjal perut dengan sepotong tahu isi yang dijual depan toko &#8220;Tjihapit&#8221;, sembari menyeruput teh botol. Setelah merasa cukup kenyang, perjalanan saya lanjutkan kembali. Di depan gerai Bank Saudara (dulu Bank Himpunan Sodara (HS) 1906), saya menemukan sesuatu yang menarik. Tertempel di kaca depan Bank HS, temuan yang menarik itu adalah sebuah pengumuman dari Bank Sudara untuk para nasabahnya yang dibuat dalam bahasa sunda. Betul sodara, bukan bahasa Indonesia, Inggris apalagi Jawa, tapi bahasa sunda.</p>
<p>Di era ketika bahasa Indonesia dan Inggris, serta campuran keduanya (englindo) menjadi lingua franca dalam setiap aktifitas bisnis, Bank Saudara memilih menginformasikan kepada nasabahnya informasi dalam bahasa sunda. Lengkapnya pengumuman Bank Saudara tsb berbunyi :</p>
<p><em>BEWARA Ti BANK SAUDARA</p>
<p>Assalamualaikum Wr.Wb.</p>
<p>Hatur Uninga ka sadaya pangersa bapak miwah ibu para pangsiunan anu ngajengken kiridit ka Bank Saudara dina sasih Juni dugi ka sasih Agustus 2008, aya tawis asih tilam kanyaah ti Bank Saudara bantosan mangrupi artos kontan etang-etang kanggo ngirangan kaabot biaya pendidikan putra atanapi putu Ibu miwah Bapak.</p>
<p>Ka Pangersa Bapak sareng ibu anu meryogikeun sumangga sumping ka Bank Saudara atanapi kantor pos anu caket sareng palinggihan.</p>
<p>Mugi janten uningan, kalayan mugia sing mangfaat pinuh barokah. Amien.</p>
<p>Wassalamualiakum.</p>
<p>Direksi Bank Saudara 1906 Tbk.</p>
<p></em>terjemahan bebasnya kira-kira begini :</p>
<p>Pengumuman dari Bank Saudara</p>
<p>Diberitahukan kepada Bapak dan Ibu Yth, para pensiunan yang mengajukan kredit ke Bank Saudara dalam bulan Juni hingga Agustus 2008, ada sedikit bingkisan dari Bank Saudara bantuan berupa uang tunai, untuk mengurangi besarnya biaya pendidikan putera-puteri/cucu Bapak dan Ibu.</p>
<p>Bapak dan Ibu yang memerlukan dipersilakan untuk datang ke kantor Cabang Bank Saudara/kantor pos terdekat.</p>
<p>Demikian agar diketahui, mudah-mudahan ada manfaatnya dan penuh berkah. Amien.</p>
<p>Wassalamualaikum,</p>
<p>Direksi Bank Saudara 1906 Tbk<br />
<a href="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/07/image007.jpg"><img class="alignnone size-medium wp-image-20" src="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/07/image007.jpg?w=240&#038;h=300" alt="" width="240" height="300" /></a></p>
<p>Sebagai bank yang didirikan di bandung, dan sahamnya dimiliki keluarga Panigoro, memang sudah sepatutnya jika BS dalam penyampaian informasinya menggunakan bahasa sunda, terutama jika market yang dibidiknya adalah para pensiunan, yang memang menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa pergaulan. Namun yang lebih penting dari itu, terlepas dari upaya bank sudara meringankan beban para pensiunanan akibat semakin tingginya biaya pendidikan, penyampaian bewara dalam bahasa sunda sangat patut diapresiasi sebagai upaya ngamumule basa sunda, dan menjadikannya tuan di rumahnya sendiri.</p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/myudiman.wordpress.com/19/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/myudiman.wordpress.com/19/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/myudiman.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/myudiman.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=myudiman.wordpress.com&amp;blog=2176871&amp;post=19&amp;subd=myudiman&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://myudiman.wordpress.com/2008/07/14/jalan-jalan-di-cihapit-bewara-ti-bank-saudara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/2b695b4f861420190656fa20ca39a69b?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">myudiman</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://myudiman.files.wordpress.com/2008/07/image007.jpg?w=240" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
