Ponsel

Posted September 17, 2008 by myudiman
Categories: Tidak terkategori

 

Sekarang ini, ponsel nampaknya telah menyatu dalam kehidupan manusia modern, khususnya di Indonesia. Mengapa saya katakan di Indonesia? Kenapa tidak di seluruh dunia? Akui saja, tidak perlu jauh-jauh. Bahkan tukang ojeg di di depan komplek dekat rumah saya pun sudah menggunakan ponsel untuk berkomunikasi dengan pelanggannya.

Intinya, manusia modern pasti menggenggam hp. Apalagi saat sekarang ini, dimana perang tarif sudah dikibarkan para operator penyelenggara layanan. Setidaknya 2 hingga 3 nomor dari operator berbeda digunakan agar biaya komunikasi menjadi lebih irit dan murah.

Kembali ke ponsel, rasanya, sulit dibayangkan jika sehari saja kita tidak menggenggam peranti komunikasi ini. Di masa lalu, telepon umum sempat jadi primadona, ditambah wartel yang tersebar di mana-mana. Seiring perkembangan teknologi wirelesss, senjakala kemudian segera saja menyergap kedua layanan telekomunikasi ini. Boleh dikata, wartel menjadi salah satu jenis usaha yang menunggu ajal pelan-pelan, karena tak banyak lagi yang membutuhkan.

Nah, beberapa waktu lalu, saya sempat merasakan kerepotan karena ponsel saya tidak bisa saya gunakan. Rusak? bukan sodara. Ponsel saya hilang, dicopet orang saat dalam angkot menuju masjid salam ITB, waktu hendak menunaikan ibadah shalat jumat.

Boleh jadi saya teledor, dan tak awas hingga ponsel 3110 Classic yang saya simpan di tempat ponsel di sabuk saya, sempat-sempatnya berpindah tangan. Proses hilangnya mungkin tak perlu saya ceritakan karena bikin dongkol dan gondok setengah hidup.

Hanya saja karena terhalang waktu untuk shalat jumat, saya tidak langsung melapor dan memblokir nomor saya ke operator. Hebatnya, waktu dua jam antara ponsel saya hilang, shalat jumat dan saat saya melapor ke kantor operator, digunakan si copet untuk menghubungi beberapa teman dan meminta pulsa. Sialnya, beberapa teman pun percaya dan terpedaya dengan permintaan si copet yang mengatasnamakan saya. 

Anyway, ini kehilangan ponsel saya yang kedua kalinya, setelah saya jadi pengacara/enterpreneur. Herannya waktu masih jadi karyawan, belum pernah kejadian ponsel saya hilang karena dicopet. Ponsel saya yang pertama kali dicopet adalah Nokia Communicator 9210i, yang menyimpan data/nomor telepon penting yang saya dapat sejak saya pertama bekerja.

Kerepotan yang muncul karena hilangnya ponsel adalah kita praktis terputus dengan “dunia sekitar” Terlebih, saya bukan tipe orang yang selalu mengingat nomor telepon. Selain karena saya tidak memiliki kemampuan fotografic memory, saya juga orang yang masuk kategori cepet inget cepet lupa hehehe

Lesson from this. Rajin-rajinlah menyimpan nomor telepon kolega, teman, pacar, mitra bisnis dan yang anda anggap penting di tempat lain. bisa di buku tulis atau komputer. diharapkan dengan cara itu, nomor anda bisa aman, meski anda kehilangan ponsel anda berkali-kali. Tapi yang lebih penting lagi, ya jangan sampai kecopetan dong. Emang enak?


Jalan-Jalan di Cihapit ; Bewara Ti Bank Saudara

Posted Juli 14, 2008 by myudiman
Categories: Jalan-jalan

Tags: ,

Hari ini saya ada perlu ke Jl. Cihapit Bandung. Bukan nyari lontong tahu cihapit yang terkenal itu, kebetulan ada seseorang yang hendak saya temui disana. Hanya saja ditengah jalan, rencana pertemuan itu batal, dan saya pun memutuskan pulang kembali ke rumah di sindanglaya.

Namun, jalan-jalan di kawasan Cihapit terlalu sayang untuk dilewatkan begitu saja. Selain banyak pedagang kaki lima yang berjualan makanan, suasana Cihapit yang adem dan teduh pun sangat menarik untuk dilewatkan berlama-lama. Mulailah saya menyusuri deretan kios barang bekas, – umumnya melayani jual-beli kaset, sepatu dan CD – di sepanjang jalan Cihapit dari arah kantor Bank NISP, menyeberang Jalan Riau hingga ke kawasan Cihapit yang masih teduh dengan pepohonan.

Saya sempat mengganjal perut dengan sepotong tahu isi yang dijual depan toko “Tjihapit”, sembari menyeruput teh botol. Setelah merasa cukup kenyang, perjalanan saya lanjutkan kembali. Di depan gerai Bank Saudara (dulu Bank Himpunan Sodara (HS) 1906), saya menemukan sesuatu yang menarik. Tertempel di kaca depan Bank HS, temuan yang menarik itu adalah sebuah pengumuman dari Bank Sudara untuk para nasabahnya yang dibuat dalam bahasa sunda. Betul sodara, bukan bahasa Indonesia, Inggris apalagi Jawa, tapi bahasa sunda.

Di era ketika bahasa Indonesia dan Inggris, serta campuran keduanya (englindo) menjadi lingua franca dalam setiap aktifitas bisnis, Bank Saudara memilih menginformasikan kepada nasabahnya informasi dalam bahasa sunda. Lengkapnya pengumuman Bank Saudara tsb berbunyi :

BEWARA Ti BANK SAUDARA

Assalamualaikum Wr.Wb.

Hatur Uninga ka sadaya pangersa bapak miwah ibu para pangsiunan anu ngajengken kiridit ka Bank Saudara dina sasih Juni dugi ka sasih Agustus 2008, aya tawis asih tilam kanyaah ti Bank Saudara bantosan mangrupi artos kontan etang-etang kanggo ngirangan kaabot biaya pendidikan putra atanapi putu Ibu miwah Bapak.

Ka Pangersa Bapak sareng ibu anu meryogikeun sumangga sumping ka Bank Saudara atanapi kantor pos anu caket sareng palinggihan.

Mugi janten uningan, kalayan mugia sing mangfaat pinuh barokah. Amien.

Wassalamualiakum.

Direksi Bank Saudara 1906 Tbk.

terjemahan bebasnya kira-kira begini :

Pengumuman dari Bank Saudara

Diberitahukan kepada Bapak dan Ibu Yth, para pensiunan yang mengajukan kredit ke Bank Saudara dalam bulan Juni hingga Agustus 2008, ada sedikit bingkisan dari Bank Saudara bantuan berupa uang tunai, untuk mengurangi besarnya biaya pendidikan putera-puteri/cucu Bapak dan Ibu.

Bapak dan Ibu yang memerlukan dipersilakan untuk datang ke kantor Cabang Bank Saudara/kantor pos terdekat.

Demikian agar diketahui, mudah-mudahan ada manfaatnya dan penuh berkah. Amien.

Wassalamualaikum,

Direksi Bank Saudara 1906 Tbk

Sebagai bank yang didirikan di bandung, dan sahamnya dimiliki keluarga Panigoro, memang sudah sepatutnya jika BS dalam penyampaian informasinya menggunakan bahasa sunda, terutama jika market yang dibidiknya adalah para pensiunan, yang memang menggunakan bahasa sunda sebagai bahasa pergaulan. Namun yang lebih penting dari itu, terlepas dari upaya bank sudara meringankan beban para pensiunanan akibat semakin tingginya biaya pendidikan, penyampaian bewara dalam bahasa sunda sangat patut diapresiasi sebagai upaya ngamumule basa sunda, dan menjadikannya tuan di rumahnya sendiri.

Sandal

Posted Desember 15, 2007 by myudiman
Categories: Tidak terkategori

Saya selalu menyukai sandal swallow. sendal karet yang alasnya umumnya berwarna putih, dengan karet penjepit dengan beragam warna ; biru, hijau, kuning, oranye, dlsb.

Saya menyukai sandal swallow karena kepraktisannya. nyaman dipakai dan sederhana. Tidak seperti sandal dari bahan lain seperti kulit atau campuran karet sintetis, sandal swallow terbuat dari latek yang empuk. Di Tasikmalaya, ada toko yang menjual sandal kulit dan karet, yang selalu jadi langganan almarhum kakek saya. Toko Slamet dan T. Toha namanya. Sandal yang dijual umumnya jenis bestong, atau tarumpah.

Kembali ke sanalda swallow, Ada beberapa merek sandal swallow. Sandal swallow yang asli mereknya ya Swallow ini, dengan logo burung  gereja atau kapinis dalam bahasa sunda. Dulu sempat ada merek swallow yang katanya asli ; Skylark. Tapi merek itu sudah tak terdengar lagi. Ada juga varian sandal swalow yang  alasnya dilapisi karet sintetis licin. Mereknya ; Daimatu. saat ini, merek  Daimatu juga nampaknya sudah almarhum. Yang terus hidup dan tersedia sampai sekarang ya, Swallow ini.

Harga sepasang sandal Swallow relatif murah Rp 6.000,-. Swallow bisa didapat di toko, warung-warung, hingga di pasar modern seperti Carrefour atau Hypermart. Saya seringnya membeli swallow di toserba Yogya. alasannya, selain variasi warnanya banyak (meski tak menjadi referensi saya), yang lebih penting di toserba yogya selalu tersedia nomor 11. Nomor besar seperti ukuran kaki saya.

Berbeda dengan saya yang sangat menggemari swallow, istri dan hampir seluruh keluarga besar saya, selalu memandang sebelah mata saja pada sandal ini. “Ketidaksukaan” mereka pada swallow, lebih karena saya selalu memakainnya, bahkan pada saat-saat yang menurut anggapan mereka “resmi”. Ini karena saya hampir selalu membawa Swallow kemanapun saya pergi.

Sewaktu bertugas ke Sanghai, dan Tokyo tahun 2002 dan 2003 saya membawa sepasang swallow, yang ternyata memang bermanfaat karena bisa saya gunakan saat jalan-jalan pagi. Kalau kemudian ikut acara resmi sih saya pakai sepatu. Tapi saya pernah kena batunya juga. Saat masuk ke sebuah restoran di Hotel Shangrila Pudong, saya ditolak masuk karena sandal swallow yang saya gunakan. Si penjaga restoran (perempuan) menunjuk ke sandal saya, dan dengan bahasa isyarat meminta saya mengganti sandal dengan sepatu.

Tidak bisa disalahkan juga sih, kadang-kadang saya memang suka bandel. Bahkan saat pulang dari tugas ke Singapura tahun 2001, saya membeli sandal. bukan untuk oleh-oleh melainkan untuk saya pakai sendiri. cuma waktu itu bukan swallow yang saya beli melainkan sandai merek hawainas dari toko Bata di Suntec City.

Waktu masih bekerja di Jakarta, swallow telah menjadi bagian dari aktifitas kerja saya. Sesampainya di kantor, sepatu langsung saya buka dan saya ganti swallow. Dengan demikian, selama di ruangan kerja saya berswallow ria kemana-mana. Bahkan saat rappat sekalipun. Kebetulan karena memang, kebijakan persandalan di kantor relatif longgar. Artinya,  bukan cuma saya saja yang begitu, banyak rekan kerja dan atasan juga menggunakan sandal dalam keseharian di kantor. Ini juga berlaku saat istirahat makan siang. Praktisnya ya pakai sandal.

Herannya, saat itu, begitu banyak yang berminat dengan sandal swallow saya. Entah sudah berapa kali, tak terhitung banyaknya saya membeli sandal swallow, karena punya saya dipinjam (dan tak kembali), dipakai, hingga dicuri orang. Bahkan saking kesalnya, saya pernah bikin puisi tentang ini. Lengkapnya pusi saya tentang sandal adalah demikian :

Kepada Yth. Pencuri Sandal

Pencuri sandal yth.
Semula, saya tidak pernah menganggap anda pencuri
Ketika saya mangkel karena sandal saya tak ada
Saya berfikir seorang teman meminjamnya
Namun lupa mengembalikan
Saya pun lalu berbaik sangka
Itupun setelah seorang teman memberi saya nasihat :
“Jangan dulu berburuk sangka, tak baik lah,
mungkin saja sandalmu dipinjam tapi tak kembali karena lupa,” 
Lumrah saja kan? Namanya juga manusia.

Pencuri sandal yth.
Lantas entah untuk kesekian kalinya,
Saya membeli sandal baru hanya karena Anda
Sandal lama saya yang sebetulnya baru
Juga hilang karena Anda.
Karena masih berbaik sangka
Pada Anda tidak ada amarah Saya

Karena tak kembali
Saya mengalah saja.
Ke pasar Tomas pergilah Saya
Mencari pengganti sandal hilang tak tau rimbanya
Empat ribu limaratus rupiah harganya
Untung, masih ada uang lima ribu di dompet saya

Pencuri Sandal Yth
Saya tak tahu apakah Anda hendak mempermainkan saya
Sandal baru saya dengan cepat berganti rupa
Menjadi buruk tak enak dipandang dan tak nyaman dirasa
Entahlah, kok mau-maunya saya memakainya
Ini semua karena saya masih sabar sama Anda

Akhirnya tumpah ruahlah kemarahan saya
Pasalnya, sandal buruk rupa itu pun akhirnya Anda embat juga
Sedangkan ini Jumat saya harus ke mushala
Waduh, celaka dua belas saya
Ibaratnya sudah jatuh tertimpa tangga.

Pencuri Sandal Yth
Jika Anda membaca surat ini
Saya hanya ingin Anda tahu
Saya sayang banget sama Anda
Tapi lain kali, jika Anda mau mencuri lagi
Tolong bilang-bilang ya.

Jakarta, Agustus 2003

Hehe, sampai sebegitunya, ya? Tapi memang demikianlah kenyataannya sodara. Sandal swallow saya, jangankan yang masih baru dan bau toko, yang buruk rupa pun, masih saja jadi incaran. Itulah hal yang menginspirasi saya hingga puisi ini lahir.

Tapi rupanya, kecintaan saya pada sandal swallow tidak menurun pada anak-anak saya. Si sulung Shakila, senang sandal yang ada hiasan candy-candy di pinggirnya. Sementara si bungsu Sayuki sudah senang pada sandal kulit. Jadinya, mungkin hanya saya generasi terakhir di keluarga yang akan jadi pengguna sandal swallow. entah sampai kapan.

senin subuh, 11 desember 07

Nasi Toetoeg Oncom alias TO

Posted Desember 15, 2007 by myudiman
Categories: Jalan-jalan

Tags: , ,

nasi-to.jpg

Nasi TO di Jl. Dadaha dekat Kampus UPI Tasikmalaya

Entah bagaimana ceritanya, Nasi TO alias Tutug Oncom, naik peringkat menjadi makanan kegemaran masyarakat dari segala lapisan. Padahal menilik sejarahnya, nasi tutug oncom, yang merupakan campuran Nasi dengan oncom bakar adalah makanan jaman susah. Waktu rakyat dan negara kita masih kesusahan. Terutama di jaman orde lama, saat harga beras dan minyak melangit.

Saat itu, menurut penuturan paman saya, nasi tutug dibuat ‘meh mahi jang sakabeh’. (Biar semua kebagian). maklum, segala susah. jangankan ayam atau ikan, yang jadi lauk nasi ya tutug (bakar) oncom itu, yang dirameskan dengan nasi. Cuma karena dimakan saat masih baru ditanak (uap nasinya masih pans dan mengepulkan asap), rasanya ya nikmat-nikmat saja sih.

Sekarang, nasi TO telah menjadi salah satu kuliner unggulan khas Tasik. Bahkan idiom baru pun muncul, terkait nasi TO ini. idiom itu adalah Ne-O. “Urang Ne-O, Yu”, menjadi ungkapan yang kerap terdengar. Artinya, ayo kita menutug oncom, (cukup sulit mencari padanan kata menutug ini dalam bahasa Indonesia-pen). NO artinya nutug oncom, alias jajan/makan nasi TO.  

Salah satu penjual nasi TO yang cukup enak menurut saya, adalah nasi TO di Jl. Dadaha, dekat dengan kampus UPI Tasikmalaya. Warung nasi ini, terletak di pinggir saluran irigasi, dan cukup ramai didatangi pengunjung. Menu yang ditawarkan nasi TO dadaha ini sederhana saja. Nasi plus TO, sambal berupa ulekan cabe rawit dan bawang, yang diguyur minyak goreng panas. Itu saja.

Sebagai pelengkap dapat ditambahkan Cipe (gorengan tempe), yang diangkat menjelang matang sehingga tidak krispi melainkan lembut (mirip tempe mendoan) dan bala-bala alias bakwan. . Dan tentus aja irisan bonteng, dan leunca sebagai lalapan. Meski sederhana, tapi jangan ditanya soal rasanya. mengutip Om Bondan Winardo sang maestro kuliner ; Mak Nyus.

Warung TO Dadaha ini, buka sejak jam 14.00 sampai jam 19.00. Saran saya, Anda harus maakan disana, karena jika dibungkus atau dibawa pulang, ada yang berubah dari rasanya. Mungkin karena sudah keburu dingin, kali ya. atau suasananya yang membuat makan di lokasi jauh lebih nikmat. entahlah.

Jadi, kapan Ne-O di Dadaha?

Anak Belajar Dari Kehidupannya

Posted Nopember 27, 2007 by myudiman
Categories: Tidak terkategori

Saya membaca puisi tentang proses belajar anak-anak ini dari buku Jalaludin Rahmat (Kang Jalal) yang best seller dan sudah jadi buku klasik ilmu komunikasi ; Psikologi Komunikasi. Kemudian, dalam satu acara TV, artis Neno Warisman membacakannya dengan indah dan syahdu. Tak ada salahnya, saya nukilkan di sini, dan mudah-mudahan bisa jadi inspirasi bagi para orangtua dalam membimbing dan mendidik anak-anaknya.

Jika anak dibesarkan dengan celaan,
ia belajar memaki

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan,
ia belajar berkelahi

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan,
ia belajar rendah diri

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan,
ia belajar menyesali diri

Jika anak dibesarkan dengan toleransi,
ia belajar menahan diri

Jika anak dibesarkan dengan dorongan,
ia belajar percaya diri

Jika anak dibesarkan dengan pujian,
ia belajar menghargai

Jika anak dibesarkan dengan sebaik-baiknya perlakuan,
ia belajar keadilan

Jika anak dibesarkan dengan rasa aman,
ia belajar menaruh kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan dukungan,
ia belajar menyenangi diri

Jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan,
ia belajar menemukan cinta dalam kehidupan

(Dorothy Law Nolte)

Taufik Ismail Sang Penyair Sufi

Posted Nopember 27, 2007 by myudiman
Categories: Tidak terkategori

Bagaimana kita menghayati peran dan kehadiran Taufik Ismail sebagai seorang penyair? Salah satunya adalah dengan menikmati karya-karyanya. Taufik adalah satu dari sedikit penyair yang punya kekahasan. Puisinya bertutur dan berkabar. Sejarawan Kuntowijoyo dalam buku kumpulan Puisi Taufik Malu aku Jadi orang Indonesia (MAJOI), menggelari Taufik sebagai penyair yang menulis sejarah.

Ia mendeskripsikan lewat syair dan kata-kata indah, perjuangan melawan tirani kekuasaan dan kelaliman pemerintah di era orde lama. Pun, ia juga dengan lugas menyentil tradisi ketamakan dan kerakusan para pelaku kekuasaan di era orde baru yang ironisnya turut ia bela kelahirannya.

Tapi mungkin sikap seperti itu yang seharusnya dimiliki oleh seorang penyair, cum sejarawan. Ia melihat ke sekelilingnya, mencermati keadaan, merasakan berbagai kesukaran yang dihadapi masyarakat, merenung, dan menulis, hingga kemudian lahirlah syair-syairnya yang puitis

Dari sekian banyak puisi Taufik Ismail, sebuah puisinya menurut saya sangat religius dan menggugah. Temanya sederhana saja. Tentang bagaimana  kegiatan ritual peribadahan seorang muslim, tak melulu harus dilakukan di mesjid nan megah, yang bertahtakan pualam, dan bertabur kemewahan. Kekhusukan dan penghambaan kita sebagai seorang mahluk kepada Tuhannya, pun bisa dilakukan di sebuah tanah lapang. Karena boleh jadi, itulah mesjid Allah yang sesungguhnya.

Dari catatan penulisnya, puisi ini ditulis di Jeddah, saat Taufik menunaikan ibadah haji tahun 1990. Puisi yang menurut subjektifitas saya begitu sangat indah ini berjudul “Mencari Sebuah Masjid”.

Selengkapnya ..

MENCARI SEBUAH MESJID

Taufiq Ismail
 
Aku diberitahu tentang sebuah masjid
yang tiang-tiangnya pepohonan di hutan
fondasinya batu karang dan pualam pilihan atapnya menjulang tempat tersangkutnya awan dan kubahnya tembus pandang, berkilauan
digosok topan kutub utara dan selatan

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sepenuh dindingnya yang transparan
dihiasi dengan ukiran kaligrafi Quran
dengan warna platina dan keemasan
berbentuk daun-daunan sangat beraturan
serta sarang lebah demikian geometriknya
ranting dan tunas jalin berjalin
bergaris-garis gambar putaran angin

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang menara-menaranya menyentuh lapisan ozon
dan menyeru azan tak habis-habisnya
membuat lingkaran mengikat pinggang dunia
kemudian nadanya yang lepas-lepas
disulam malaikat menjadi renda-renda benang emas
yang memperindah ratusan juta sajadah
di setiap rumah tempatnya singgah

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang sebuah masjid yang letaknya di mana 
bila waktu azan lohor engkau masuk ke dalamnya
engkau berjalan sampai waktu asar
tak bisa kau capai saf pertama
sehingga bila engkau tak mau kehilangan waktu
bershalatlah di mana saja
di lantai masjid ini, yang luas luar biasa

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang ruangan di sisi mihrabnya
yaitu sebuah perpustakaan tak terkata besarnya
dan orang-orang dengan tenang membaca di dalamnya
di bawah gantungan lampu-lampu kristal terbuat dari berlian yang menyimpan cahaya matahari
kau lihat bermilyar huruf dan kata masuk beraturan
ke susunan syaraf pusat manusia dan jadi ilmu yang berguna
di sebuah pustaka yang bukunya berjuta-juta
terletak di sebelah menyebelah mihrab masjid kita

Aku rindu dan mengembara mencarinya

Aku diberitahu tentang masjid yang beranda dan ruang dalamnya
tempat orang-orang bersila bersama
dan bermusyawarah tentang dunia  dengan hati terbuka
dan pendapat bisa berlainan namun tanpa pertikaian
dan kalau pun ada pertikaian bisalah itu diuraikan
dalam simpul persaudaraan yang sejati
dalam hangat sajadah yang itu juga
terbentang di sebuah masjid yang mana

Tumpas aku dalam rindu
Mengembara mencarinya
Di manakah dia gerangan letaknya ?

Pada suatu hari aku mengikuti matahari
ketika di puncak tergelincir dia sempat
lewat seperempat kuadran turun ke barat
dan terdengar merdunya azan di pegunungan
dan aku pun melayangkan pandangan
mencari masjid itu ke kiri dan ke kanan
ketika seorang tak kukenal membawa sebuah gulungan
dia berkata :

“Inilah dia masjid yang dalam pencarian tuan”

dia menunjuk ke tanah ladang itu
dan di atas lahan pertanian dia bentangkan
secarik tikar pandan
kemudian dituntunnya aku ke sebuah pancuran
airnya bening dan dingin mengalir beraturan
tanpa kata dia berwudhu duluan
aku pun di bawah air itu menampungkan tangan
ketika kuusap mukaku, kali ketiga secara perlahan
hangat air terasa, bukan dingin kiranya
demikianlah air pancuran
bercampur dengan air mataku
yang bercucuran.

Jeddah 1990.

Indah bukan? Begitulah, hingga saya pun pernah bikin puisi yang maksud hati ingin menyamai keindahan dan kekuatan lirik-liriknya, tapi apa daya puisi itu enggak ada indah-indahnya sama sekali. wajar saja, karena isinya juga cuma kekesalan saya atas hilangnya sandal yang biasa saya pakai saat di kantor.

Kembali ke Taufik Ismail, penyair yang di usia senjanya ini, masih getol menularkan kecintaan generasi muda kepada dunia sastra, khususnya anak-anak sekolah lewat kegiatan apresiasi sastra di sekolah-sekolah. Buat Taufik Ismail, seorang sastrawan sejatinya tidak tinggal di menara gading. Ia harus selalu “turun gunung” dan menyemai kecintaan kita kepada kesusastraan.

Bang Taufik, semoga senantiasa selamat dan menghasilkan karya-karya indah.

Halo dunia!

Posted Nopember 22, 2007 by myudiman
Categories: Tidak terkategori

 copy-of-dscf3369.jpg

Hallo, nama kami Shakila dan Syauki. Kami dua anak yang lucu-lucu putera dan puteri dari ayah dan bunda kami. Nama ayah kami Maulana Yudiman. Kami biasa memanggilnya Ayah Yudi. Sedangkan bunda kami namanya Bunda Sofie. Kami lahir di Bandung dan bercita-cita ingin menjadi anak yang soleh dan solehah, berbakti kepada kedua orangtua dan berguna bagi nusa bangsa dan agama. amin

Silakan membaca blog kami ya. walaupun yang menulisnya sebenarnya ayah kami (tapi jangan bilang-bilang ya). Dulu ayah kerja sebagai wartawan. itu lho, orang yang sering mewawancara orang lain dan menulisnya di koran dan majalah. Sekarang, pekerjaan ayah adalah jualan sayur dan ikan, meski masih sering duduk di depan komputer, untuk menulis.

Sudah dulu ya, salam dari kami.

Shakila dan Syauki